Pedang Pora, Tradisi Penghormatan dalam Pernikahan Perwira Militer

Pedang Pora, Tradisi Penghormatan dalam Pernikahan Perwira Militer

-Rindy's Flower WO-Pinterest

RADARTVNEWS.COM — Pernikahan seorang perwira militer tidak hanya menjadi momen penting bagi kedua mempelai dan keluarga, tetapi juga memiliki tradisi khusus berupa upacara Pedang Pora. tradisi tersebut merupakan prosesi penghormatan yang dilakukan oleh rekan-rekan sesama perwira sebagai simbol restu dan kebersamaan ketika seorang perwira memasuki kehidupan rumah tangga.

Pedang Pora dikenal sebagai salah satu tradisi dalam lingkungan militer yang dilakukan pada pernikahan pertama seorang perwira. Dalam prosesi tersebut, sejumlah perwira membentuk barisan dan mengangkat pedang sehingga menciptakan lorong kehormatan yang kemudian dilalui oleh kedua mempelai.

Prosesi tersebut memiliki makna simbolis sebagai bentuk penghormatan, perlindungan, serta doa bagi pasangan yang memulai kehidupan baru. Selain itu, Pedang Pora juga mencerminkan kekompakan, solidaritas, dan ikatan persaudaraan di antara para perwira.

Berdasarkan buku Tradisi TNI Angkatan Laut (2020), upacara Pedang Pora dalam tradisi TNI Angkatan Laut dilaksanakan pada pernikahan pertama seorang perwira dan tidak diulang pada pernikahan berikutnya. Pelaksanaannya dapat dilakukan di gedung pertemuan atau tempat khusus yang telah dipersiapkan, baik di lingkungan kediaman mempelai maupun lokasi lain yang memenuhi ketentuan.

Prosesi Pedang Pora tidak dilaksanakan di dalam rumah ibadah maupun kantor pencatatan sipil. Namun, pelaksanaannya dapat dilakukan di area luar tempat ibadah setelah rangkaian pernikahan selesai.

Dalam pelaksanaannya, upacara ini melibatkan sejumlah personel yang memiliki tugas masing-masing. Barisan kehormatan dapat terdiri atas perwira remaja yang membawa pedang, komandan peleton, pendamping, serta personel yang bertugas dalam rangkaian upacara. Susunan personel dapat disesuaikan dengan ketentuan dan tradisi masing-masing lingkungan atau satuan militer.

Selain prosesi penghormatan, dalam tradisi TNI Angkatan Laut, mempelai perempuan juga mengikuti prosesi penerimaan sebagai anggota organisasi istri prajurit TNI AL, yaitu Jalasenastri. Prosesi tersebut menjadi bagian dari pengenalan dan penerimaan pasangan ke dalam lingkungan keluarga besar TNI AL.

Sebelum melaksanakan pernikahan, prajurit juga harus memenuhi ketentuan administrasi dan memperoleh izin perkawinan sesuai aturan kedinasan yang berlaku. Proses tersebut mencakup pengajuan permohonan, pemenuhan dokumen administrasi, serta persetujuan dari pejabat yang berwenang di lingkungan satuan.

BACA JUGA:Filosofi Tradisi Cangget Agung, Warisan Budaya Pemersatu Masyarakat Adat Lampung Pepadun

Pelaksanaan Pedang Pora pada akhirnya tidak hanya menjadi rangkaian seremoni dalam pernikahan seorang perwira. Tradisi tersebut menjadi simbol penghormatan dari rekan-rekan seperjuangan sekaligus penanda bahwa seorang perwira telah memasuki fase kehidupan baru bersama pasangannya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: bridestory