Kenapa Internet Bisa Mengubah Mood Kita? Kadang Cuma Scroll Sebentar, Tapi Perasaan Ikut Berubah

Kenapa Internet Bisa Mengubah Mood Kita? Kadang Cuma Scroll Sebentar, Tapi Perasaan Ikut Berubah

Kenapa internet bisa mengubah mood kita-Pinterest-Soturno.v2

RADARTVNEWS.COM - Ada hari ketika seseorang membuka ponsel hanya untuk mengusir bosan. Awalnya cuma ingin melihat satu atau dua video, mengecek Instagram, membaca berita, atau membalas pesan. Namun, tanpa terasa, waktu berjalan cukup lama. Yang menarik, ketika ponsel akhirnya diletakkan, perasaan kita belum tentu sama seperti sebelum membuka internet. Kadang mood menjadi lebih baik setelah menemukan video lucu, mendengarkan lagu yang disukai, atau membaca pesan dari seseorang. Tetapi ada juga momen ketika seseorang justru merasa lebih lelah, gelisah, minder, bahkan tidak bersemangat setelah terlalu lama berada di internet.

Hal tersebut membuat internet bukan lagi sekadar tempat untuk mencari informasi atau hiburan. Bagi banyak orang, terutama anak muda, internet sudah menjadi bagian dari keseharian yang ikut bersentuhan dengan suasana hati. Salah satu alasannya adalah karena internet memberikan begitu banyak rangsangan dalam waktu yang sangat singkat. Dalam beberapa menit saja, seseorang bisa melihat berita tentang bencana, video komedi, unggahan pencapaian teman, iklan produk, konflik di media sosial, lalu beralih ke video musik. Perasaan pun seperti dipaksa berpindah dari satu suasana ke suasana lainnya.

Penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Computer-Mediated Communication pada 2025 menunjukkan bahwa hubungan antara aktivitas browsing media sosial dan kesejahteraan emosional tidak sesederhana “media sosial membuat orang bahagia” atau “media sosial membuat orang stres”. Penelitian terhadap 108 emerging adults menemukan kecenderungan kecil bahwa aktivitas browsing media sosial berkaitan dengan berkurangnya perasaan positif. Namun, hasil penelitian tersebut juga menunjukkan adanya ketidakpastian yang cukup besar dan perbedaan pengalaman pada setiap individu. Artinya, pengalaman seseorang ketika menggunakan internet bisa sangat berbeda dengan orang lain.

Bagi seseorang, membuka TikTok setelah menjalani hari yang melelahkan mungkin menjadi hiburan sederhana. Melihat video lucu atau konten dari kreator favorit bisa membuat pikiran sedikit lebih ringan. Sementara bagi orang lain, aktivitas yang sama justru bisa berubah menjadi kebiasaan membandingkan diri dengan kehidupan orang lain. Masalahnya bukan selalu pada internetnya, tetapi pada apa yang kita temui di dalamnya.

Ketika sedang membuka media sosial, kita menerima informasi tanpa henti. Ada kehidupan orang lain yang terlihat lebih menarik, pekerjaan yang tampak lebih sukses, hubungan yang terlihat lebih bahagia, sampai orang-orang yang seolah selalu punya sesuatu untuk dirayakan. Padahal, apa yang muncul di layar biasanya hanya sebagian kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat foto liburan, tetapi tidak melihat masalah sebelum foto tersebut diambil. Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan baru, tetapi tidak melihat berapa kali ia gagal sebelumnya. Kita melihat pasangan yang terlihat bahagia, tetapi tidak tahu bagaimana kehidupan mereka ketika kamera dimatikan.

BACA JUGA:Penyelam Basarnas Masuk Bangkai Virgo Transport 8, Sejumlah Korban Ditemukan

Meski mengetahui hal tersebut secara logis, perbandingan tetap bisa terjadi secara tidak sadar. Di sisi lain, internet juga memiliki kemampuan untuk memperbaiki suasana hati. Musik, komunitas online, percakapan dengan teman, video hiburan, hingga konten yang memberikan motivasi dapat menjadi sumber kenyamanan. WHO dalam laporan mengenai kesehatan mental anak muda pada 2025 juga menekankan bahwa dampak teknologi terhadap kesejahteraan tidak sepenuhnya negatif maupun positif. Pengaruhnya dapat berbeda berdasarkan jenis aktivitas digital, kondisi individu, serta lingkungan tempat seseorang berada.

Karena itu, tidak tepat jika setiap perubahan mood setelah menggunakan internet langsung dianggap sebagai dampak buruk media sosial. Ada kalanya internet justru menjadi tempat seseorang menemukan sesuatu yang sedang dibutuhkan. Seseorang yang sedang merasa sendirian mungkin menemukan komunitas dengan pengalaman serupa. Orang yang sedang kehilangan motivasi bisa menemukan cerita yang membuatnya kembali bersemangat. Bahkan sebuah lagu yang ditemukan secara tidak sengaja di internet dapat mengingatkan seseorang pada pengalaman tertentu atau membuatnya merasa bahwa perasaannya tidak sendirian.

Namun, persoalannya mulai berbeda ketika seseorang terus mencari konten meskipun konten tersebut justru membuat dirinya semakin tidak nyaman. Salah satu bentuknya adalah doomscrolling, yaitu kebiasaan terus-menerus melihat informasi negatif, mengkhawatirkan, atau mengganggu meskipun pengalaman tersebut terasa tidak menyenangkan. Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan pada September 2026 menganalisis 44 laporan penelitian mengenai doomscrolling. Hasilnya menemukan hubungan antara doomscrolling dengan kecemasan, gejala depresi, tekanan psikologis, serta tingkat kesejahteraan dan kepuasan hidup yang lebih rendah. Namun, peneliti juga menegaskan bahwa hasil tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa doomscrolling secara langsung menyebabkan kondisi-kondisi tersebut. Tingkat kepastian buktinya juga dinilai sangat rendah.

Kebiasaan tersebut sebenarnya cukup mudah dikenali dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang membuka media sosial untuk mengetahui satu berita. Setelah membaca berita tersebut, muncul berita lain yang lebih buruk. Kemudian ada komentar, video reaksi, unggahan baru, dan informasi lain yang masih berkaitan. Bukannya berhenti setelah mendapatkan informasi yang dibutuhkan, jari justru terus melakukan scroll. Lima menit berubah menjadi setengah jam, lalu setengah jam berubah menjadi satu jam. Ketika akhirnya berhenti, informasi yang masuk mungkin sudah terlalu banyak untuk diproses dengan tenang.

Kondisi seperti itu juga menunjukkan bahwa hubungan antara internet dan mood tidak hanya berkaitan dengan durasi penggunaan. Apa yang dikonsumsi selama berada di internet juga memiliki peran. Dua orang bisa menghabiskan waktu satu jam di internet dengan pengalaman yang sangat berbeda. Orang pertama mungkin menghabiskan waktunya mendengarkan musik, berbicara dengan teman, dan menonton konten hiburan. Orang kedua bisa saja menghabiskan waktu yang sama dengan membaca komentar penuh konflik, melihat berita buruk, dan membandingkan dirinya dengan orang lain. Durasi yang sama tidak otomatis menghasilkan suasana hati yang sama.

BACA JUGA:Rosé BLACKPINK Rilis “new trick”, Hadirkan Nuansa Garage-Punk

Penelitian tahun 2026 terhadap 773 mahasiswa di Indonesia dan Spanyol juga menunjukkan adanya hubungan antara penggunaan digital yang bermasalah dengan sejumlah variabel kesehatan mental pada kelompok mahasiswa yang diteliti. Studi tersebut menemukan peserta dari Indonesia memiliki tingkat digital addiction, kecemasan, dan kesepian yang lebih tinggi dibandingkan peserta dari Spanyol. Namun, penelitian ini bersifat komparatif dan menggunakan data survei, sehingga hasilnya tidak dapat digunakan untuk mengatakan bahwa internet secara langsung menyebabkan kondisi tersebut.

Pada akhirnya, internet mungkin lebih tepat dipahami sebagai lingkungan yang dapat memperkuat suasana hati yang sedang kita rasakan. Ketika sedang bahagia, kita mungkin mencari sesuatu yang membuat kita semakin terhibur. Ketika sedang sedih, kita mungkin mencari lagu atau cerita yang sesuai dengan perasaan tersebut. Ketika sedang cemas, kita bisa saja terus mencari informasi sampai akhirnya semakin khawatir. Internet memberikan kita banyak pilihan, tetapi pilihan tersebut tidak selalu membuat pikiran lebih tenang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: