Pamer di Layar, Fenomena Flexing di Media Sosial
ilustrasi-foto: Pinterest-
RADARTVNEWS.COM – Media sosial telah mengubah cara manuasia berintraksi, mengapresiasi diri, hingga membangun identitas. Salah satu fenomena yang semakin menonjol adalah budaya flexing kebiasaan memamerkan gaya hidup, harta, pencapaian, atau simbol kesuksesan secara terbuka di ruang digital. Mulai dari unggahan liburan mewah, barang bermerk, saldo rekening, hingga pencapaian karier, flexing kini menjadi bagian dari keseharian media sosial, terutama di kalangan anak muda.
Apa Itu flexing?
Flexing berasal dari istilah bahasa Inggris to flex, yang berari memamerkan. Dalam konteks media sosial, flexing merujuk pada Tindakan menunjukan sesuatu yang dianggap bernilai tinggi baik materi, status sosial, maupun pencapaian pribadi dengan tujuan mendapatkan perhatian, pengakuan, atau validasi dari orang lain.
Awalnya, flexing dianggap sebagai bentuk ekspresi diri atau perayaan atas hasil kerja keras. Namun, seiring waktu, batas antara berbagi kebahagiaan dan pamer berlebihan menjadi semakin kabur.
Media Sosial Sebagai Panggung Pencitraan
Platform media sosial bekerja dengan sistem likes, komentar, dan jumlah penonton. Secara tidak langsung, algoritma mendorong konten yang mencolok, sensasional, dan memicu reaksi emosional. Flexing pun menjadi strategi ampuh untuk menarik perhatian.
Banyak orang merasa perlu terlihat sukses agar dianggap berhasil, relevan, atau bahkan layak dihargai. Akibatnya, media sosial berubah menjadi panggung pencitraan, di mana kehidupan ditampilkan seolah sempurna, meski realitasnya jauh lebih kompleks.
Tekanan Sosial dan Dampak Psikologis
Budaya flexing tidak hanya berdampak pada pelaku, tetapi juga pada audiens. Paparan konten pamer yang berulang dapat memicu:
• Perasaan minder dan tidak cukup baik
• Tekanan untuk mengikuti gaya hidup di luar kemampuan
• Kecemasan finansial dan FOMO (fear of missing out)
• Perbandingan hidup yang tidak sehat
Bagi sebagian orang, flexing menciptakan standar kesuksesan semu, seolah kebahagiaan hanya bisa diraih lewat materi dan pengakuan publik.
Flexing dan Realitas yang Tersembunyi
Yang jarang disadari, tidak semua flexing mencerminkan kondisi nyata. Ada yang berutang demi terlihat mapan, menyewa barang demi konten, atau menyembunyikan tekanan hidup di balik senyum kamera. Media sosial hanya menampilkan potongan terbaik, bukan keseluruhan cerita. Hal ini membuat flexing menjadi ilusi kolektif, banyak yang terlihat “berhasil”, tetapi sedikit yang benar-benar bahagia dan tenang.
Perlukah Flexing?
Flexing tidak selalu salah. Membagikan pencapaian dapat menjadi motivasi dan inspirasi jika dilakukan secara jujur dan proporsional. Namun, ketika flexing berubah menjadi ajang pembuktian diri dan sumber tekanan sosial, saat itulah budaya ini perlu ditinjau ulang.
Kesadaran digital menjadi kunci. Mengonsumsi media sosial dengan bijak, memahami bahwa tidak semua yang terlihat adalah realita, serta membangun definisi sukses versi diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar terlihat “hebat” di layar.
Budaya flexing di media sosial adalah cerminan zaman yang haus akan pengakuan. Di tengah arus pamer yang tak ada habisnya, mungkin kita perlu bertanya: apakah hidup untuk ditampilkan, atau dijalani? Sebab pada akhirnya, nilai diri tidak ditentukan oleh apa yang kita pamerkan, melainkan oleh bagaimana kita merasa cukup dan utuh tanpa harus membuktikannya pada siapa pun.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
