Miris! Bahasa Lampung Makin Jarang Digunakan Anak Muda

Miris! Bahasa Lampung Makin Jarang Digunakan Anak Muda

--

BANDAR LAMPUNG, RADARTVNEWS.COM – Bahasa Lampung merupakan salah satu bahasa daerah yang menjadi identitas masyarakat Provinsi Lampung. Namun, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kawasan perkotaan, mengalami penurunan dibandingkan generasi sebelumnya. 

Di Bandar Lampung, bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling dominan dalam komunikasi sehari-hari. Penggunaannya mencakup lingkungan keluarga, pendidikan, tempat kerja, hingga ruang publik. Sementara itu, Bahasa Lampung lebih banyak digunakan pada keluarga yang masih mempertahankan tradisi berbahasa daerah atau dalam komunitas adat tertentu. Penelitian Achril Zalmansyah dalam jurnal Kelasa menemukan bahwa 72% responden anak muda masih menggunakan Bahasa Lampung di lingkungan keluarga. Namun, angka tersebut turun menjadi 45% ketika mereka berada di lingkungan masyarakat atau ruang publik. Data ini menunjukkan adanya pergeseran ranah penggunaan Bahasa Lampung dari ruang publik menuju ruang domestik. 

Provinsi Lampung sendiri merupakan wilayah dengan masyarakat multietnik akibat mobilitas penduduk dan sejarah transmigrasi yang berlangsung sejak masa kolonial hingga setelah kemerdekaan. Kondisi tersebut menjadikan bahasa Indonesia berfungsi sebagai bahasa penghubung antarsuku dalam kehidupan perkotaan, sehingga frekuensi penggunaan bahasa daerah ikut berkurang. 

Bahasa Lampung memiliki dua kelompok dialek utama, yakni Api dan Nyo, yang digunakan oleh masyarakat adat Saibatin maupun Pepadun di berbagai wilayah Lampung. Keragaman dialek tersebut menjadi salah satu kekayaan linguistik daerah yang masih dipertahankan di sejumlah kabupaten, terutama wilayah yang didominasi penutur asli. 

Kajian vitalitas bahasa yang dilakukan Budiono dkk. (2023) di Kabupaten Pesisir Barat menunjukkan bahwa Bahasa Lampung berada pada kategori rentan dengan indeks vitalitas 0,72. Penelitian tersebut menyebut dua indikator yang paling memengaruhi kondisi bahasa, yaitu pewarisan antargenerasi dan ranah penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. 

Temuan serupa juga muncul dalam kajian sosiolinguistik terbaru mengenai generasi muda di Bandar Lampung. Penelitian tersebut mengidentifikasi tiga faktor utama yang memengaruhi menurunnya penggunaan Bahasa Lampung, yaitu dominasi bahasa Indonesia dalam pendidikan dan media, perubahan struktur sosial masyarakat perkotaan, serta pengaruh globalisasi terhadap pilihan bahasa generasi muda. 

Dalam konteks pendidikan, Bahasa Lampung masih diajarkan sebagai muatan lokal di sekolah dasar dan menengah di Provinsi Lampung. Namun, penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran formal belum sepenuhnya berbanding lurus dengan intensitas penggunaan bahasa di luar kelas, terutama pada remaja yang lebih sering berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dalam pergaulan sehari-hari. 

AcademiaData tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama pelestarian Bahasa Lampung bukan terletak pada keberadaan kurikulum, melainkan pada keberlanjutan penggunaannya di lingkungan keluarga dan masyarakat. Semakin sedikit bahasa digunakan dalam interaksi sehari-hari, semakin terbatas pula proses pewarisan kosakata, dialek, serta ekspresi budaya kepada generasi berikutnya. 

Di tengah perkembangan media digital, sejumlah penelitian juga menilai bahwa platform seperti media sosial, podcast, video pendek, hingga musik dapat menjadi ruang baru untuk meningkatkan eksposur bahasa daerah kepada generasi muda. Pendekatan revitalisasi berbasis teknologi dinilai lebih relevan dengan pola komunikasi masyarakat saat ini dibandingkan mengandalkan pembelajaran formal semata.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: https://ojs.linguistik-indonesia.org/index.php/linguistik_indonesia/article/view/389