Visual Makanan Buatan AI Makin Marak, Kreativitas Jadi Perdebatan
Ai merajalela sampai ke sektor UMKM, para penjual mulai menggunakan ai dalam pembuatan poster menu mereka, hal itu menjadi pro dan kontra di kalangan masyarakat.--Twitter @thosaidon
RADARTVNEWS.COM – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini semakin mudah digunakan untuk membuat berbagai kebutuhan visual, termasuk poster dan banner promosi makanan.
Namun, tren tersebut justru memunculkan perdebatan di kalangan pengguna media sosial.
Sejumlah visual makanan yang dibuat menggunakan AI dinilai kurang mampu menggugah selera. Tampilan makanan yang terlalu sempurna, bentuk yang tidak wajar, hingga detail yang terlihat berbeda dari makanan sebenarnya membuat sebagian masyarakat lebih memilih foto produk asli.
Perdebatan mengenai penggunaan gambar AI untuk promosi makanan juga muncul di media sosial. Kritik terutama ditujukan pada visual yang dianggap terlalu artifisial sehingga makanan terlihat kurang natural.
Bagi konsumen, tampilan makanan menjadi salah satu pertimbangan sebelum memutuskan untuk membeli, sehingga gambar yang tidak meyakinkan justru dapat memberikan kesan kurang menarik.
Selain persoalan tampilan, penggunaan AI dalam materi promosi juga dinilai dapat mengurangi karakter sebuah usaha. Foto yang dibuat langsung oleh pemilik atau fotografer dapat memperlihatkan bentuk, tekstur, dan penyajian makanan secara lebih nyata.
BACA JUGA:AI Video Makin Realistis, Industri Kreatif Terancam?
Sementara itu, gambar AI cenderung menghasilkan visual yang mengikuti pola tertentu dan berpotensi membuat promosi berbagai usaha terlihat serupa.
Maraknya konten semacam ini kemudian melahirkan istilah AI slop, yakni sebutan untuk konten AI yang dibuat dalam jumlah besar dengan proses kreatif dan penyuntingan yang terbatas. Tren tersebut dinilai berpotensi membuat tampilan di ruang digital semakin monoton dan kehilangan ciri khas.
Meski begitu, penggunaan AI tetap memiliki sisi positif bagi pelaku usaha. Teknologi ini dapat membantu membuat konsep visual dengan lebih cepat dan menjadi alternatif bagi UMKM yang memiliki keterbatasan biaya untuk menggunakan jasa fotografer atau desainer.
Namun, sebagian pihak menilai kemudahan tersebut sebaiknya tidak membuat pelaku usaha sepenuhnya meninggalkan foto produk asli. Visual AI dapat digunakan sebagai elemen pendukung, sedangkan foto makanan yang sebenarnya tetap menjadi bagian utama promosi agar konsumen mendapatkan gambaran yang lebih sesuai.
Pada akhirnya, penggunaan AI dalam promosi makanan bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga soal kepercayaan dan kreativitas.
Poster yang menarik bukan sekadar memiliki tampilan yang rapi atau sempurna, tetapi juga mampu membuat konsumen memahami produk dan membayangkan makanan yang benar-benar akan mereka terima.
Di tengah tren visual berbasis AI, pilihan antara gambar buatan mesin dan foto asli kembali kepada kebutuhan masing-masing usaha. Namun, semakin nyata perdebatan yang muncul menunjukkan bahwa bagi sebagian konsumen, visual yang autentik masih memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan gambar yang terlihat terlalu sempurna.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: twitter @thosaidon