Kesehatan Mental: Kenapa Sulit Berhenti Scroll Media Sosial? Ini Penjelasan Fenomena Doomscrolling

Kesehatan Mental: Kenapa Sulit Berhenti Scroll Media Sosial? Ini Penjelasan Fenomena Doomscrolling

Ilustrasi Doomscrolling-Pinterest-

RADARTVNEWS.COM - Pernah membuka media sosial hanya untuk “sebentar”, tetapi tiba-tiba satu atau dua jam sudah berlalu?

Banyak orang mengalami hal yang sama. Kebiasaan ini dikenal dengan istilah doomscrolling, yaitu perilaku terus menggulir layar untuk membaca atau menonton berbagai konten secara berulang tanpa benar-benar merasa puas.

Fenomena doomscrolling semakin sering terjadi di era digital ketika informasi hadir tanpa henti melalui berbagai platform media sosial.

Konten baru terus bermunculan setiap detik, mulai dari video hiburan, berita terbaru, hingga tren yang sedang viral. Hal ini membuat pengguna mudah terjebak dalam aktivitas scroll yang berlangsung lebih lama dari yang direncanakan.

Secara sederhana, doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir media sosial untuk melihat berbagai konten secara berulang. Aktivitas ini sering dilakukan tanpa tujuan yang jelas dan membuat seseorang sulit berhenti meskipun sudah menghabiskan banyak waktu.

Banyak orang awalnya hanya ingin melihat satu atau dua unggahan saja. Namun, setelah menemukan konten yang menarik, pengguna terdorong untuk melihat konten berikutnya. Tanpa disadari, waktu yang seharusnya hanya beberapa menit bisa berubah menjadi berjam-jam.

Salah satu alasan utama mengapa doomscrolling sulit dihentikan berkaitan dengan cara kerja otak manusia. Otak secara alami menyukai hal-hal baru dan mengejutkan. Setiap kali menemukan konten baru, seperti video lucu, berita terbaru, atau unggahan menarik, otak akan melepaskan dopamin, yaitu zat kimia yang memberikan rasa senang.

Sensasi kecil ini membuat seseorang terdorong untuk terus mencari konten berikutnya. Akibatnya, aktivitas scroll terasa menyenangkan dan sulit dihentikan karena otak terus mencari stimulasi baru dari konten yang muncul di layar.

Selain faktor psikologis, algoritma media sosial juga berperan besar dalam memperkuat kebiasaan doomscrolling.

Platform digital dirancang untuk membuat pengguna tetap berada di aplikasi selama mungkin. Sistem algoritma akan mempelajari perilaku pengguna, seperti jenis video yang sering ditonton, topik yang sering dibaca, hingga akun yang sering dilihat.

Berdasarkan data tersebut, algoritma akan menampilkan konten serupa secara terus-menerus. Hal ini membuat pengguna merasa selalu menemukan sesuatu yang menarik untuk dilihat, sehingga aktivitas scrolling terus berlanjut.

Doomscrolling juga sering dipicu oleh rasa penasaran dan keinginan untuk selalu mengetahui informasi terbaru. Banyak orang merasa perlu mengikuti perkembangan berita, tren viral, atau isu yang sedang ramai dibicarakan.

Keinginan untuk tidak ketinggalan informasi ini sering disebut sebagai fear of missing out (FOMO). Akibatnya, seseorang terus membuka media sosial untuk memastikan dirinya tetap mengetahui apa yang sedang terjadi. Padahal, tidak semua informasi tersebut benar-benar penting bagi kehidupan sehari-hari.

Jika dilakukan secara berlebihan, doomscrolling dapat membawa berbagai dampak negatif. Kebiasaan ini bisa menghabiskan banyak waktu tanpa disadari dan mengganggu produktivitas sehari-hari.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: