BANNER HEADER DISWAY HD

Fenomena “Crown Shyness”: Ketika Pohon Saling Menjaga Jarak demi Harmoni Alam

Fenomena “Crown Shyness”: Ketika Pohon Saling Menjaga Jarak demi Harmoni Alam

Ilustrasi --ISTIMEWA

RADARTVNEWS.COM - Kalau kamu pernah berjalan di tengah hutan dan menatap ke atas, mungkin kamu akan melihat celah-celah di antara pucuk pohon yang membentuk pola unik di langit, seolah ranting-ranting itu sengaja saling menghindar. Fenomena ini dikenal dengan sebutan crown shyness, sebuah perilaku alami di mana kanopi pohon tidak saling bersentuhan, menciptakan garis-garis retak menyerupai aliran sungai di udara. 

Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai bentuk “kesopanan” antar pohon—cara mereka menjaga jarak agar tetap tumbuh bersama tanpa saling mengganggu. Tak hanya indah dipandang, pola ini juga berperan penting bagi keseimbangan ekosistem hutan. 

Mengapa Crown Shyness Terjadi? 

Sejumlah penelitian mencoba menjelaskan alasan di balik fenomena ini. Meskipun belum ada satu jawaban pasti, beberapa teori berikut dianggap paling kuat: 

1. Sensor Cahaya dan Kompetisi Sinar Matahari 

Pohon memiliki reseptor cahaya yang bisa mendeteksi perubahan intensitas cahaya di sekitarnya. Saat sinar matahari terhalang oleh pohon lain, pertumbuhan cabang akan melambat atau berbelok ke arah yang lebih terang. Dengan begitu, setiap pohon bisa mendapatkan porsi cahaya tanpa harus saling menutupi. 

2. Benturan Karena Angin 

Di hutan yang sering diterpa angin, cabang-cabang tinggi pohon bisa saling terbentur. Akibatnya, bagian ujung cabang yang rusak berhenti tumbuh, sehingga tercipta jarak alami di antara kanopi. 

3. Menghindari Penyebaran Hama dan Penyakit 

Ruang kosong di antara kanopi ternyata juga membantu mencegah penyebaran hama daun dan parasit. Dengan adanya jarak, serangga atau penyakit tidak mudah berpindah dari satu pohon ke pohon lain. 

4. Adaptasi Morfologi dan Genetik 

Penelitian terbaru menggunakan pemindaian 3D menunjukkan bahwa bentuk dan ukuran pohon juga mempengaruhi tingkat crown shyness. Pohon yang ramping dan tinggi cenderung memiliki jarak kanopi yang lebih jelas dibanding pohon yang batangnya tebal. 

BACA JUGA:Fenomena Awan Cumulonimbus Hiasi Langit Jawa Barat, BMKG Ingatkan Tetap Waspada

Fenomena crown shyness paling sering ditemukan pada jenis pohon yang tumbuh berkelompok dan memiliki tinggi seimbang, seperti eucalyptus, pinus, hingga mangrove di daerah tropis. Di beberapa hutan, pola celahnya terlihat begitu indah hingga menjadi objek fotografi populer bagi para pecinta alam. 

Menurut National Geographic, jarak antarkanopi ini memiliki manfaat besar bagi ekosistem hutan. Selain membantu cahaya matahari menembus hingga ke lantai hutan agar tanaman kecil bisa tumbuh, crown shyness juga mengurangi risiko kerusakan akibat benturan antar cabang. Tak hanya itu, fenomena ini turut menjaga kesehatan pohon dengan memperlambat penyebaran penyakit. 

Ilmuwan dari IFL Science menambahkan bahwa fenomena ini menunjukkan kemampuan adaptasi luar biasa dari tumbuhan. Pohon-pohon mampu “merasakan” kehadiran satu sama lain, lalu mengatur pertumbuhannya agar tidak mengganggu lingkungan di sekitarnya. 

Bukan cuma pemandangan indah, crown shyness menjadi pengingat bahwa alam punya cara tersendiri untuk menjaga harmoni. Pohon-pohon yang tumbuh berdekatan pun tahu bagaimana berbagi ruang tanpa harus bersaing secara destruktif. Dari sana, manusia bisa belajar bahwa hidup berdampingan bukan berarti harus bersentuhan, tapi saling menghormati batas agar semuanya bisa tumbuh bersama.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: