BANNER HEADER DISWAY HD

Fenomena “Rojali” Merebak hingga Amerika Serikat

Fenomena “Rojali” Merebak hingga Amerika Serikat

Ilustrasi-Foto : Ist-

RADARTVNEWS.COM - Fenomena “Rojali”, yang merupakan singkatan dari “Rombongan Jarang Beli”, sedang menjadi perbincangan di berbagai media sosial dan dunia nyata sejak pertengahan tahun 2025. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan perilaku sekelompok orang yang datang ke pusat perbelanjaan atau mal hanya untuk berjalan-jalan, menikmati fasilitas, berswafoto, atau sekadar menghabiskan waktu bersama teman dan keluarga—tanpa melakukan pembelian produk apa pun.

Tren ini awalnya ramai dibicarakan di Indonesia, namun kabarnya, fenomena serupa mulai terlihat di pusat dunia di Amerika Serikat. Para pengunjung datang ramai-ramai ke mal, tetapi minimal transaksi di penyewa ritel. Mereka lebih memanfaatkan fasilitas gratis seperti Wi-Fi, area duduk, atau hanya “cuci mata”. Hal ini menyebabkan pertumbuhan angka kunjungan tidak sejalan dengan kenaikan omzet toko di pusat dunia.

Menurut pengelola pusat dunia dan pengamat ekonomi, penyebab utama fenomena “Rojali” adalah perubahan pola konsumsi masyarakat. Banyak pengunjung, terutama dari kelas menengah ke bawah, yang mengalami tekanan daya beli akibat kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Di sisi lain, kelas menengah atas justru memilih untuk lebih berhati-hati dan menunda belanja barang yang bernilai besar, memilih lebih banyak menabung atau berinvestasi.

Dampak terhadap Pusat Perbelanjaan

  • Omzet pusat kekhawatiran tertekan : Meskipun terlihat kembali ramai pascapandemi, tingkat penjualan banyak penyewa ritel mengalami penurunan.
  • Retailer melakukan penyesuaian : Banyak tenant dan pengelola yang mal beradaptasi dengan mengadakan promo, memperbanyak event, hingga menambah fasilitas gratis untuk mendatangkan pengunjung dengan harapan bisa meningkatkan transaksi nyata di masa mendatang.
  • Fenomena global : Sejumlah laporan yang menyebut, perilaku seperti “Rojali” juga mulai terlihat di mal-mal Amerika Serikat, Inggris, dan Tiongkok. Pengunjung datang untuk sekedar bersantai atau mencari hiburan, bukan untuk berbelanja. Kondisi ini mendorong manajemen mal di negara-negara tersebut untuk terus berinovasi dalam menciptakan pengalaman baru, tanpa hanya fokus pada penjualan barang.

Selain “Rojali”, muncul pula istilah seperti “Rohana” (Rombongan Hanya Nanya), “Rohalus” (Rombongan Hanya Elus-Elus), dan “Rocuta” (Rombongan Cuci Mata), yang semuanya merujuk pada pergeseran gaya hidup masyarakat perkotaan di pusat-pusat perbelanjaan.

BACA JUGA:Fenomena Rojali Marak di Indonesia: Ramai ke Mall, Enggan Belanja

Fenomena ini menegaskan bahwa pusat dunia dunia kini tidak lagi hanya menjadi tempat bertransaksi, tetapi juga sebagai destinasi hiburan, rekreasi, dan sosial. Meskipun pengelola mal berharap pengunjung kembali menjadi “Royani” (Rombongan Doyan Beli), mereka kini harus berpikir kreatif agar mengunjungi “Rojali” dan “Rohana” suatu saat bisa mengkonversikan menjadi transaksi nyata bagi para penyewa dan mendukung pemulihan sektor ritel

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: