BANNER HEADER DISWAY HD

Fenomena Rojali Marak di Indonesia: Ramai ke Mall, Enggan Belanja

Fenomena Rojali Marak di Indonesia: Ramai ke Mall, Enggan Belanja

Ilustrasi-Foto : Instagram @nowdots-

RADARTVNEWS.COM - Apa Itu Rojali?

Fenomena "rojali", singkatan dari rombongan jarang beli , kini sedang marak dan menjadi perbincangan nasional, terutama di kota-kota besar Indonesia. Istilah ini Merujuk pada kelompok orang yang gemar berjalan-jalan ke pusat dunia dunia (mall) secara beramai-ramai, namun enggan melakukan pembelian apa pun. Tak hanya rojali, muncul juga istilah "rohana" ( rombongan hanya nanya ), sebagai pelengkap fenomena ini.

Beberapa ciri khas perilaku rojali yang sering dijumpai di mall Indonesia antara lain datang berkelompok bersama teman atau keluarga, menghabiskan banyak waktu di area umum mall seperti food court, lorong, atau spot foto, serta tidak melakukan pembelian — hanya sekadar melihat-lihat atau bertanya harga. Mereka juga memanfaatkan fasilitas gratis seperti Wi-Fi, pendingin ruangan, dan pengujian produk, sambil sering membuat konten untuk media sosial tanpa berinteraksi dengan penyewa.

Para pengamat menyebutkan  beberapa faktor utama yang memicu fenomena rojali. Pertama, perubahan perilaku konsumen dimana banyak yang hanya memeriksa barang di mall namun memilih membeli secara online karena alasan harga dan kemudahan. Kedua, melemahnya daya beli akibat kondisi perekonomian yang belum sepenuhnya pulih, sehingga banyak orang lebih memilih dan menunda pembelian, terutama kalangan menengah ke bawah. Ketiga, mall kini berfungsi bukan hanya sebagai tempat belanja, tetapi juga sebagai tempat hiburan, bersosialisasi, 'cuci mata', atau mencari suasana nyaman.

Dari sisi retailer, pelaku usaha mengaku pengunjung memang banyak tetapi transaksi lama-kelamaan menurun, sehingga omzet mereka menurun, khususnya di tenant ritel dan makanan. Pemerintah, melalui Menteri Perdagangan, menyatakan bahwa perilaku rojali adalah hal yang wajar dan merupakan hak konsumen untuk berdamai dengan proses berbelanja yang berubah di era digital. Tidak ada larangan bagi pengunjung untuk sekadar melihat-lihat sebelum membeli.

Kalangan Muda memandang fenomena rojali sebagai bagian dari gaya hidup perkotaan yang wajar. Banyak dari mereka yang mengaku hanya datang untuk mencari referensi produk, bersantai, atau menunggu waktu promosi sebelum benar-benar membeli barang.

BACA JUGA:Sidak Mall PTSP Pemkot Bandar Lampung, Ombudsman, Beberapa Pelayanan Belum Maksimal

Meningkatnya tren belanja online membuat toko fisik sering berfungsi sebagai 'showroom', sementara pembelian terjadi secara berani. Hal ini menyebabkan meskipun kunjungan mall meningkat, omzet belum mengalami peningkatan yang signifikan dan malah menurun bagi banyak pelaku usaha.

Fenomena rojali mencerminkan perubahan dinamika perilaku konsumen di tengah urbanisasi dan digitalisasi di Indonesia. Meski menjadi tantangan bagi pelaku usaha ritel, hal ini dianggap wajar oleh pemerintah dan menjadi bagian dari adaptasi industri dalam menghadapi perkembangan zaman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: