Anak-Anak TK Mencapai Puncak: Ketangguhan dan Alam dalam Pendidikan Dini di Jepang
--ISTIMEWA
RADARTVNEWS.COM - Di sebuah lembaga pendidikan taman kanak-kanak di Jepang, anak-anak usia TK baru saja menyelesaikan sebuah petualangan yang tak biasa: mereka mendaki gunung setinggi sekitar 2.700 meter di atas permukaan laut, bukan sekadar outing atau kemah seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi benar-benar sebuah pendakian menantang yang menguji stamina dan semangat.
BACA JUGA:Emas Cair yang Tak Pernah Membusuk: Keabadian Madu dalam Sejarah
Meskipun banyak anak-anak merasa lelah dan sempat ingin berhenti, mereka tetap maju hingga puncak karena semangat bersama dan dorongan dari pendamping. Momen ini kemudian dilihat sebagai langkah penting dalam proses tumbuh-kembang mereka: bukan sekadar mencapai puncak gunung, tetapi belajar bahwa dalam perjalanan menuju puncak, ada tantangan, kelelahan, kebutuhan untuk saling mendukung, dan pada akhirnya kemenangan kecil ketika sampai di sana.
Fenomena ini bukan sekadar aksi tunggal atau gimmick, di Jepang sudah lama berkembang sebuah pendekatan pendidikan yang menempatkan alam terbuka sebagai “kelas” yang sangat penting bagi anak-usia dini.
Istilah seperti “Yagai Hoiku” (野外保育: pengasuhan di alam bebas) atau model yang terinspirasi oleh Forest Kindergarten menjadi bagian dari mindset bahwa anak-anak perlu “keluar dari ruangan”, menjelajah lereng, hutan, gunung, bahkan dalam cuaca yang kurang ideal, untuk mengembangkan karakter, ketahanan fisik dan mental, kemampuan bekerja sama, serta hubungan dengan alam yang mendalam.
Sebuah penelitian di Jepang menunjukkan bahwa pendidikan di alam seperti ini memberi efek positif bukan hanya bagi pengembangan fisik dan motorik anak-anak, tetapi juga terhadap kemampuan akademik mereka di jenjang selanjutnya.
Contohnya, di salah satu taman kanak-kanak dekat kaki bukit di prefektur Hiroshima, disebutkan bahwa anak-anak yang “bermain dan belajar” di lingkungan alam sekitar menunjukkan hasil yang lebih baik dalam uji ketahanan fisik, kekuatan otot, kelincahan, dan juga pencapaian akademik di sekolah dasar dibanding rata-rata nasional.
Dalam konteks pendakian 2.700 mdpl oleh anak-anak TK ini: kegiatan ini mengandung banyak makna. Pertama, secara fisik mereka menghadapi naik turunnya jalur, kelelahan, kemungkinan cuaca yang berubah, ini bukan berjalan di taman bermain biasa.
Kedua, secara emosional mereka belajar bahwa “ingin berhenti” adalah hal wajar, tapi dengan dukungan teman dan guru bisa terus maju. Ketiga, secara sosial mereka saling menolong, memberi semangat, menyadari bahwa mereka bagian dari kelompok.
Keempat, secara ekologis mereka merasakan alam secara langsung, udara di ketinggian, panorama luas, tantangan alam, yang memperkuat hubungan mereka dengan lingkungan sekitar, bukan hanya sebagai objek tapi sebagai peserta.
Lebih jauh lagi, kegiatan seperti ini mencerminkan bahwa pendidikan bukan sekadar transfer pengetahuan dalam kelas, tetapi pengalaman hidup yang melekat dalam tubuh dan ingatan anak-anak: “Saya capek, tapi saya bisa sampai,” “Saya mendaki bersama teman,” “Saya melihat puncak gunung dari bawah dan kemudian di atas.” Semua ini menjadi fondasi karakter: ketahanan, kebanggaan diri, rasa pencapaian, dan rasa terkoneksi dengan alam.
Bagi kita di Indonesia, pengalaman ini bisa menjadi sumber inspirasi untuk memikirkan ulang bagaimana pendidikan anak-usia dini bisa memanfaatkan alam sekitar sebagai “kelas luar ruangan” yang sangat kaya.
Anak-anak Indonesia bisa dibawa ke aktivitas luar ruangan yang menantang, tidak harus gunung setinggi 2.700 mdpl, tapi misalnya lereng bukit, hutan kota, kebun organik, dengan pengawasan yang memadai dan keamanan yang dijaga.
Mereka bisa belajar berjalan di medan alami, istirahat bersama, pengamatan alam, diskusi kecil tentang tantangan yang mereka temui. Produk-inovasi Anda dalam jamu gendong modern bisa terhubung di sini: anak yang aktif di luar ruangan, yang mengalami tantangan ringan di alam, secara fisik dan mental mungkin akan menghargai kesehatan, ketahanan tubuh, serta pentingnya asupan alami, yang bisa menjadi entry point untuk edukasi tentang kesehatan terpadu (outdoor learning + nutrisi alami).
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
