BANNER HEADER DISWAY HD

Jerome Polin Ungkap Ditawari Jadi Buzzer, Pilih Bongkar Praktiknya ke Publik

Jerome Polin Ungkap Ditawari Jadi Buzzer, Pilih Bongkar Praktiknya ke Publik

Influencer Jerome Polin Mengecam Buzzer-@jeromepolin-Instagram

RADARTVNEWS.Com - Konten kreator dan edukator populer Jerome Polin kembali menjadi sorotan warganet usai mengunggah postingan mengejutkan di akun Instagram resminya. Dalam unggahan tersebut, Jerome membagikan tangkapan layar percakapan (chat) yang memperlihatkan adanya tawaran bagi dirinya untuk menjadi buzzer politik dengan bayaran fantastis. Alih-alih menerima, Jerome justru menolak keras dan menjadikan tawaran itu sebagai bahan kritik sosial. Ia mengemasnya dengan gaya satir khasnya, sekaligus membuka mata publik tentang realita praktik buzzer di Indonesia.

Dalam unggahannya, Jerome menuliskan kalimat sindiran:

Nih aku spill, uang rakyat dipake buat bayar buzzer per orang 150 juta…

Ia kemudian menambahkan perbandingan yang menohok. Menurutnya, jika uang sebesar itu digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan guru, maka setidaknya 15 guru bisa mendapat tambahan gaji masing-masing Rp10 juta. Pesan ini mempertegas sikap Jerome yang menolak tawaran tersebut. Ia menyoroti bagaimana dana publik kerap dianggap tidak tepat sasaran, sementara sektor krusial seperti pendidikan masih menghadapi berbagai kendala kesejahteraan.

Unggahan Jerome langsung menuai beragam reaksi dari warganet. Mayoritas memberikan dukungan penuh dan mengapresiasi keberanian Jerome menolak tawaran tersebut sekaligus membongkarnya ke publik. Banyak yang menilai langkah Jerome sebagai contoh positif bagi figur publik, terutama di tengah maraknya praktik buzzer yang dianggap merusak ruang diskusi sehat di media sosial.

BACA JUGA:Ribuan Ojol Iringi Pemakaman Affan Kurniawan di TPU Karet Bivak

Sejumlah komentar juga menyinggung bahwa keberadaan buzzer hanya memperkeruh suasana, terutama setelah aksi unjuk rasa dan kerusuhan yang sempat terjadi beberapa hari lalu. Publik menilai keberanian Jerome untuk berbicara terbuka patut diapresiasi, apalagi ia memiliki basis audiens yang besar, khususnya kalangan anak muda. 

Praktik buzzer bukanlah hal baru di Indonesia. Istilah ini merujuk pada individu atau kelompok yang dibayar untuk menyuarakan, menyebarkan, atau memperkuat narasi tertentu di media sosial, biasanya terkait isu politik. Kehadiran buzzer kerap dianggap merusak kualitas demokrasi, karena opini publik bisa digiring dengan informasi yang belum tentu benar. Banyak pengamat menilai, keterlibatan figur publik seperti selebritas atau influencer berpotensi memperkuat efek buzzer, karena mereka memiliki audiens yang luas. Namun dalam kasus Jerome, tawaran itu justru berbalik arah, bukannya diterima, malah dipublikasikan sebagai sindiran keras terhadap praktik yang merugikan masyarakat. Langkah Jerome untuk menolak tawaran menjadi buzzer sejalan dengan citra yang selama ini ia bangun: seorang konten kreator yang mengedepankan edukasi, transparansi, dan kepedulian sosial. 

Dengan membongkar tawaran tersebut, Jerome bukan hanya menjaga integritas pribadinya, tetapi juga memberi pesan jelas kepada publik: tidak semua figur publik bisa “dibeli” untuk kepentingan politik.

Kasus ini menambah catatan panjang mengenai fenomena buzzer di Indonesia, namun di sisi lain, sikap Jerome Polin memberikan harapan bahwa masih ada figur publik yang berani bersuara lantang dan menolak untuk ikut arus politik praktis yang manipulatif.

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait