BANNER HEADER DISWAY HD

Kenapa Kode Bandara Lampung TKG Bukan LPG?, Ini Alasannya

Kenapa Kode Bandara Lampung TKG Bukan LPG?, Ini Alasannya

Ilustrasi--ISTIMEWA

RADARTVNEWS.COM - Saat memesan tiket atau lihat label bagasi, kita sering menemukan tiga huruf singkat yang merepresentasikan bandara itulah kode IATA. Bandara Radin Inten II yang melayani Bandar Lampung tercantum dengan kode TKG. Banyak orang heran, kenapa tidak LPG (singkatan Lampung)? Jawabannya berkaitan dengan sejarah nama kota dan aturan penetapan kode oleh IATA. 

1. Kode berasal dari nama lama kota: Tanjung Karang → TKG

Sebelum dikenal sebagai Bandar Lampung, pusat kota pernah dikenal luas sebagai Tanjung Karang. Kode TKG adalah singkatan dari Tanjung Karang, sehingga ketika kode IATA ditetapkan untuk bandara yang melayani kota ini, tiga huruf tersebut dipakai dan kemudian bertahan walau nama kota resmi berganti. Ini adalah praktik umum di banyak tempat: kode sering mengambil nama kota lama atau nama historis yang sudah terlanjur dipakai di registri penerbangan. 

2. IATA menetapkan kode secara terpusat dan harus unik

Penetapan tiga huruf IATA dilakukan oleh International Air Transport Association (IATA) sesuai aturan resmi (mis. Resolution/ketentuan IATA). Prinsip utamanya, setiap kode harus unik, tidak boleh dipakai dua bandara berbeda, dan biasanya diambil dari nama kota/bandara bila memungkinkan. Karena keterbatasan kombinasi tiga huruf, kadang kode merefleksikan nama lama, nama panggilan populer, atau kombinasi huruf agar tidak bentrok dengan kode lain. Mengubah kode yang sudah dipakai jarang dilakukan kecuali ada alasan kuat.BACA JUGA:Turun Kasta Bandara Radin Inten II, Dishub Akui Ada Penataan Ulang 

3. LPG sudah dipakai oleh bandara lain (La Plata, Argentina)

Kode LPG tidak tersedia untuk digunakan di Lampung karena tiga huruf itu sudah terdaftar sebagai IATA code untuk La Plata Airport di Argentina. Karena aturan IATA meminta keunikan, dua bandara tidak bisa memiliki kode yang sama, jadi memilih LPG untuk Lampung bukan opsi bila kode itu sudah dialokasikan. 

4. Praktik serupa di bandara lain (contoh global)

Bukan hal yang aneh bila kode bandara tampak “tidak cocok” dengan nama sekarang, misalnya ORD untuk Chicago O’Hare (dari Orchard Field), atau kode yang diambil dari nama lama/daerah. Hal ini menegaskan bahwa kode IATA lebih bersifat historis/operasional ketimbang sekadar singkatan nama modern. 

5. Dampak praktis untuk penumpang dan pelaku industri

Untuk penumpang tidak perlu khawatir TKG adalah kode resmi yang digunakan pada tiket, papan keberangkatan, dan sistem bagasi. Untuk pelaku industri (maskapai, agen perjalanan, cargo), perubahan kode memerlukan proses formal dengan IATA dan dapat menimbulkan gangguan besar pada sistem IT dan operasional, oleh karena itu kode yang sudah mapan biasanya dibiarkan. 

Kode bandara Radin Inten II adalah TKG karena berasal dari nama historis/kota lama Tanjung Karang, sedangkan LPG tidak dipakai karena telah dialokasikan untuk bandara lain (La Plata, Argentina). Penetapan dan pengelolaan kode IATA dilakukan secara terpusat dan didesain agar unik dan stabil, sehingga kode yang sudah digunakan jarang diubah.BACA JUGA:Melongok Bandara Radin Inten II, Warisan Penjajah Jepang yang Mulai Layani Penerbangan Lampung – Bali

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: