Tawa Cekikik Dua Pembual di Hutan Terkutuk

Tawa Cekikik Dua Pembual di Hutan Terkutuk

ilustrasi-Foto : Udin Bule-

Opini oleh : Syamsudin

Kamis sore itu, hujan turun pelan seperti bisik-bisik yang tak ingin terdengar terlalu jelas. Di simpang jalan desa, langkah tertatih seorang pemuda terhenti ketika angin mengusap wajahnya yang murung. Dari gardu ronda di ujung lapangan, terdengar teriakan, “Tong, sini!”

Otong menghampiri. Di sana sudah duduk Kondang, sahabatnya sejak kecil—teman seperjuangan dalam banyak hal, termasuk patah hati. Otong baru saja berpisah dengan Nuryamah. Kondang pun tak kalah nestapa—kisahnya dengan Rotul kandas di tengah jalan.

Mereka tertawa. Tertawa yang lebih mirip usaha menertawakan nasib sendiri. Dua lelaki muda yang merasa tertipu janji cinta. Dua hati yang merasa dibohongi harapan.

Namun obrolan mereka tak berhenti pada luka asmara.

Kondang mengajak Otong ke sebuah tempat yang oleh warga disebut “Hutan Terkutuk” di belakang desa sebelah. Konon, setiap Jumat tengah malam, terdengar tawa perempuan bersahutan. Kadang cekikikan, kadang tangis memilukan. Cerita turun-temurun menyebutnya suara kuntilanak atau sundel bolong.

Otong bertanya lirih, “Di zaman sekarang, masih adakah begituan?”

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan tentang hantu.

Ia tentang keyakinan. Tentang akal sehat. Tentang apa yang sebenarnya lebih menakutkan: makhluk halus, atau manusia yang kehilangan nurani?

Kondang berseloroh, mungkin suara itu berasal dari dua perempuan yang tersesat dari negeri antah-berantah. Perempuan yang di negerinya gemar berdusta, ingkar janji, dan kini dikutuk hanya bisa tertawa cekikikan tanpa makna.

Otong menimpali, barangkali keduanya pernah terjun ke kancah perpolitikan. Satu pembual, satu pembohong. Seragam boleh sama, warna boleh identik, tetapi isi kepala dan isi hati dipenuhi kemunafikan.

Mereka tertawa lagi.

Namun kali ini, tawa itu terasa getir.

Kisah di gardu ronda itu sejatinya bukan tentang hutan. Bukan pula tentang kuntilanak atau sundel bolong. Itu hanyalah metafora—cara sederhana orang desa membaca zaman yang semakin sulit dipahami.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: