Ternyata, Ini Asal Usul dan Makna Ngabuburit
Ilustrasi Warga Mencari Takjil-Pinterest-
RADARNEWS.COM - Menjelang waktu berbuka puasa, suasana sore di bulan Ramadhan selalu terasa berbeda. Banyak orang menghabiskan waktu dengan berjalan santai, berburu takjil, berkumpul bersama teman, atau sekadar menikmati suasana senja. Kegiatan ini dikenal luas dengan istilah ngabuburit, sebuah tradisi yang telah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia.
Ngabuburit tidak hanya sekedar aktivitas menunggu azan magrib, tetapi juga menjadi momen kebersamaan dan kebudayaan yang khas setiap bulan Ramadhan. Tradisi ini berkembang dari waktu ke waktu dan kini menjadi fenomena sosial yang hampir selalu hadir di berbagai daerah.
Secara bahasa, istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda. Kata ini berakar dari kata dasar burit yang berarti sore atau waktu menjelang petang. Setelah mendapatkan imbuhan awalan “nga” dan pengulangan bunyi, kata tersebut berubah menjadi ngabuburit yang merujuk pada kegiatan menunggu waktu sore menjelang berbuka puasa.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ngabuburit diartikan sebagai aktivitas menunggu azan magrib saat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Awalnya istilah ini banyak digunakan oleh masyarakat di wilayah Jawa Barat. Namun seiring perkembangan media dan budaya populer, kata ngabuburit kemudian menyebar luas dan kini digunakan oleh masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Jika ditelusuri lebih jauh, tradisi ngabuburit ternyata bukan kebiasaan baru. Sejarahnya diperkirakan sudah muncul sejak Islam mulai menyebar di wilayah Sunda sekitar abad ke-16. Pada masa itu, masyarakat sudah memiliki cara tersendiri untuk mengisi waktu menjelang berbuka puasa.
Anak-anak biasanya menghabiskan waktu dengan bermain permainan tradisional seperti layang-layang atau meriam bambu. Sementara orang dewasa berkumpul, berbincang dengan tetangga, atau mengikuti kegiatan keagamaan di masjid dan musala.
Tradisi ini kemudian berkembang semakin populer pada era modern, terutama pada tahun 1980-an di Bandung. Saat itu, banyak acara musik bernuansa Islami digelar menjelang waktu berbuka dan sering disebut sebagai acara ngabuburit. Dari situlah istilah ini semakin dikenal luas oleh masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, cara masyarakat menjalani ngabuburit juga mengalami perubahan. Jika dulu identik dengan permainan tradisional dan aktivitas komunitas, kini kegiatan ngabuburit menjadi jauh lebih beragam.
Beberapa aktivitas ngabuburit yang populer di antaranya berburu takjil di pasar Ramadan, jalan santai atau bersepeda menjelang magrib, mengunjungi tempat wisata atau taman kota, mengaji dan mengikuti kajian Ramadhan atau berkumpul bersama keluarga dan teman.
Bahkan di beberapa kota, ngabuburit juga menjadi momen munculnya berbagai kegiatan kreatif seperti bazar Ramadhan, pertunjukan seni, hingga kegiatan sosial.
Di balik berbagai aktivitasnya, ngabuburit memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar menunggu waktu berbuka. Tradisi ini mencerminkan kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan waktu dengan kegiatan yang bermanfaat selama menjalankan ibadah puasa.
Selain itu, ngabuburit juga menjadi sarana mempererat hubungan sosial. Interaksi antarwarga, kebersamaan keluarga, hingga kegiatan komunitas menjadikan suasana Ramadhan terasa lebih hangat dan penuh makna.
Meski bentuk kegiatannya terus berubah mengikuti perkembangan zaman, esensi ngabuburit tetap sama, yaitu mengisi waktu menjelang berbuka dengan aktivitas yang positif sekaligus menikmati suasana khas Ramadhan. (*)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: