Bukan Sekadar Sulit Tidur, Insomnia Dikaitkan dengan Risiko Stroke Lebih Tinggi

Selasa 27-10-2026,13:15 WIB
Reporter : MG - Puja Yana
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM — Insomnia tidak hanya menyebabkan rasa kantuk dan kelelahan pada siang hari, tetapi juga berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan serius. Sebuah tinjauan ilmiah yang diterbitkan dalam jurnal Sleep Medicine Reviews menemukan bahwa orang yang mengalami insomnia memiliki risiko stroke 26 persen lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak mengalami gangguan tidur tersebut.

Penelitian yang dilakukan oleh tim peneliti Eropa ini menganalisis gabungan data dari berbagai studi dengan jumlah peserta lebih dari satu juta orang. Hasilnya menunjukkan bahwa insomnia juga berkaitan dengan peningkatan risiko depresi, gangguan kesehatan otak, serta rawat inap di rumah sakit.

Insomnia Berkaitan dengan Berbagai Masalah Kesehatan

Insomnia merupakan gangguan tidur yang ditandai dengan kesulitan memulai tidur, mempertahankan tidur, atau terbangun terlalu dini. Kondisi ini dapat mengganggu aktivitas sehari-hari meskipun seseorang memiliki kesempatan yang cukup untuk beristirahat.

Penelitian tersebut dipimpin Luca Vignatelli, ahli neurologi dan epidemiologi dari Bologna, Italia, untuk European Academy of Neurology, bersama Stefan Seidel dari Medical University of Vienna.

Vignatelli menyebut insomnia perlu mendapat perhatian sebagai salah satu sinyal yang berkaitan dengan kondisi kesehatan otak dan mental seseorang.

Dalam tinjauan tersebut, peneliti mengumpulkan 16 tinjauan terdahulu dan menyusun tiga analisis baru berdasarkan studi dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara. Untuk menganalisis kaitan insomnia dengan stroke, mereka menggabungkan data dari enam studi dengan jumlah peserta mulai sekitar 2.000 hingga lebih dari 500.000 orang. Masa pemantauan penelitian berkisar antara empat hingga 19 tahun.

Selain menemukan kaitan dengan peningkatan risiko stroke sebesar 26 persen, penelitian tersebut mencatat bahwa penderita insomnia memiliki kemungkinan hingga tiga kali lebih tinggi mengalami depresi di kemudian hari. Risiko rawat inap untuk berbagai alasan medis juga tercatat meningkat hingga 28 persen.

Hubungan Insomnia dan Stroke Belum Dipastikan

Meski menunjukkan hubungan yang cukup kuat, para peneliti menegaskan bahwa hasil penelitian ini belum membuktikan insomnia secara langsung menyebabkan stroke atau gangguan otak lainnya.

Dalam tinjauan tersebut, insomnia lebih diposisikan sebagai risk marker atau penanda risiko yang dapat membantu menunjukkan adanya kemungkinan masalah kesehatan.

Salah satu studi yang dianalisis juga menemukan bahwa penderita insomnia yang tidak menggunakan obat tidur tidak menunjukkan peningkatan risiko stroke yang jelas setelah penggunaan obat diperhitungkan. Temuan ini membuka kemungkinan bahwa penggunaan obat-obatan turut berperan dalam hubungan yang terlihat, meskipun hal tersebut masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Secara teori, para ilmuwan menduga gangguan tidur dapat berkaitan dengan proses peradangan dalam tubuh serta terganggunya mekanisme pembersihan protein sisa di otak saat malam hari. Namun, mekanisme pasti yang menjelaskan hubungan insomnia dengan kerusakan atau gangguan kesehatan otak masih belum sepenuhnya dipahami.

Terapi Perilaku Kognitif Jadi Pilihan Penanganan

Bagi masyarakat yang mengalami kesulitan tidur secara terus-menerus, Stefan Seidel menyarankan agar kondisi tersebut diperiksakan kepada tenaga medis.

Kategori :