RADARTVNEWS.COM – Istilah anxious attachment dan avoidant attachment belakangan semakin sering muncul di media sosial, terutama di kalangan Gen Z. Kedua istilah ini kerap digunakan untuk menjelaskan pola perilaku seseorang dalam menjalin hubungan asmara, mulai dari rasa takut ditinggalkan hingga kecenderungan menjaga jarak dengan pasangan.
Meski ramai dibahas di TikTok dan platform media sosial lainnya, anxious attachment dan avoidant attachment bukanlah tren baru. Keduanya merupakan bagian dari Attachment Theory atau teori keterikatan yang pertama kali dikembangkan oleh psikolog John Bowlby dan kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh Mary Ainsworth. Dalam penelitian modern, gaya keterikatan orang dewasa dipahami melalui dua dimensi utama, yaitu attachment anxiety (kecemasan terhadap penolakan atau ditinggalkan) dan attachment avoidance (kecenderungan menghindari kedekatan emosional). Apa Itu Anxious Attachment? Anxious attachment adalah pola keterikatan yang membuat seseorang sangat mendambakan kedekatan emosional, tetapi di saat yang sama terus-menerus takut kehilangan hubungan tersebut. Orang dengan pola ini umumnya memiliki kebutuhan yang tinggi akan kepastian dan validasi dari pasangan. Ciri-ciri anxious attachment Beberapa tanda yang sering muncul antara lain: - Sering merasa pasangan berubah hanya karena cara membalas chat berbeda dari biasanya. - Merasa cemas apabila pesan tidak segera dibalas, meski baru beberapa menit atau jam. - Terlalu sering meminta kepastian, misalnya dengan bertanya, "Kamu masih sayang aku?" atau "Kamu marah ya?". - Takut ditinggalkan meskipun tidak ada tanda hubungan sedang bermasalah. - Mudah overthinking terhadap hal-hal kecil, seperti pasangan lebih lama aktif di media sosial atau lupa memberi kabar. - Sulit menikmati waktu sendiri karena merasa lebih tenang jika terus berkomunikasi dengan pasangan. - Cenderung mengorbankan kebutuhan diri sendiri agar pasangan tidak pergi. - Mudah merasa cemburu dan membandingkan diri dengan orang lain. - Menganggap konflik kecil sebagai tanda hubungan akan berakhir. - Setelah bertengkar, memiliki dorongan kuat untuk segera menyelesaikan masalah dan merasa gelisah jika pasangan meminta waktu untuk menenangkan diri. Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai hyperactivation strategy, yaitu kecenderungan otak menjadi sangat peka terhadap tanda-tanda penolakan sehingga seseorang terus mencari kedekatan dan kepastian dari pasangannya. Apa Itu Avoidant Attachment? Berbeda dengan anxious attachment, avoidant attachment ditandai dengan kecenderungan menjaga jarak secara emosional. Seseorang dengan pola ini biasanya menghargai kemandirian dan merasa tidak nyaman jika hubungan terasa terlalu dekat atau terlalu bergantung satu sama lain. Ciri-ciri avoidant attachment Orang dengan avoidant attachment umumnya menunjukkan beberapa perilaku berikut: - Sulit membuka diri atau menceritakan perasaan terdalam kepada pasangan. - Merasa tidak nyaman ketika pasangan terlalu sering menghubungi atau ingin selalu bersama. - Membutuhkan waktu sendiri dalam jumlah yang cukup banyak. - Cenderung menghindari pembicaraan serius mengenai hubungan atau masa depan. - Saat terjadi konflik, lebih memilih diam, menghilang sementara, atau menarik diri daripada membahas masalah. - Terlihat cuek atau dingin, padahal belum tentu tidak memiliki perasaan. - Merasa tidak nyaman ketika harus bergantung kepada orang lain maupun ketika orang lain bergantung kepadanya. - Menganggap terlalu banyak menunjukkan emosi sebagai sesuatu yang melelahkan. - Kerap memberikan sinyal yang membingungkan, seperti sangat perhatian di satu waktu tetapi tiba-tiba menjadi sangat menjaga jarak. - Saat hubungan mulai terasa semakin serius, muncul dorongan untuk menjauh atau mempertanyakan hubungan tersebut. Dalam teori attachment, perilaku ini dikenal sebagai deactivation strategy, yaitu mekanisme untuk mengurangi kedekatan emosional demi mempertahankan rasa aman dan kemandirian. Mengapa Keduanya Sering Bertabrakan? Hubungan antara seseorang dengan anxious attachment dan avoidant attachment sering kali menciptakan siklus yang berulang. Ketika individu dengan anxious attachment merasa pasangannya mulai menjauh, ia cenderung meningkatkan intensitas komunikasi, mencari kepastian, atau berusaha semakin dekat. Sebaliknya, pasangan dengan avoidant attachment justru dapat merasa tertekan oleh kedekatan tersebut sehingga memilih mengambil jarak. Respons itu kemudian membuat individu dengan anxious attachment semakin cemas, sementara pasangan yang avoidant semakin ingin menjauh. Pola tarik-ulur inilah yang sering disebut sebagai anxious-avoidant trap dalam pembahasan psikologi hubungan. Penelitian menunjukkan bahwa attachment anxiety lebih sering berkaitan dengan meningkatnya konflik dalam hubungan, sedangkan attachment avoidance lebih berkaitan dengan rendahnya kepuasan hubungan, kedekatan emosional, dan dukungan antarpasangan. Bukan Diagnosis Gangguan Mental Psikolog menegaskan bahwa anxious attachment maupun avoidant attachment bukan merupakan gangguan mental atau diagnosis klinis. Keduanya adalah pola keterikatan yang terbentuk dari berbagai pengalaman hidup dan dapat berubah seiring waktu melalui hubungan yang sehat, refleksi diri, maupun bantuan profesional apabila diperlukan. Kesimpulan Fenomena anxious attachment dan avoidant attachment yang ramai dibahas Gen Z memiliki dasar ilmiah dalam teori psikologi, bukan sekadar istilah viral di media sosial. Memahami karakteristik kedua pola keterikatan ini dapat membantu seseorang mengenali cara dirinya membangun hubungan, mengelola konflik dengan lebih sehat, serta meningkatkan kualitas komunikasi dengan pasangan. Dengan kesadaran diri dan dukungan yang tepat, seseorang tetap dapat mengembangkan secure attachment, yaitu pola hubungan yang lebih aman, saling percaya, dan sehat.Anxious Attachment dan Avoidant Attachment Ramai Dibahas Gen Z, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Kamis 20-08-2026,17:18 WIB
Reporter : MG - Muthia Afifah
Editor : Jefri Ardi
Tags : #psikologi
#kesehatan mental
#gen z
#avoidant attachment
#attachment theory
#anxious attachment
Kategori :
Terkait
Sabtu 03-10-2026,12:36 WIB
Terlalu Sering Mengeluh Bisa Memengaruhi Otak dan Kesehatan, Ini Penjelasan Psikolog
Kamis 01-10-2026,19:55 WIB
Kenapa Banyak Orang Takut ke Dokter? Ini Penyebab di Balik Rasa Cemas Sebelum Periksa
Kamis 01-10-2026,18:34 WIB
Kamar Berantakan Bikin Makin Stres atau Stres Bikin Kamar Terasa Berantakan?
Kamis 17-09-2026,19:00 WIB
Viral Curhatan Wanita Soal "Keuntungan" Dirawat di RSJ, Warganet Malah Penasaran Ingin Coba
Rabu 16-09-2026,18:45 WIB
Dopamin Bisa Didapat dari Mana Saja, Ini Aktivitas Sederhana yang Membantu
Terpopuler
Senin 05-10-2026,14:11 WIB
Kulit Sehat dari Dalam? Kenali Manfaat Matcha dan Faktanya
Senin 05-10-2026,10:45 WIB
Pengadaan Perlengkapan Tidur BGN Senilai Miliaran Rupiah Jadi Sorotan Publik, Ini Klarifikasinya
Senin 05-10-2026,10:22 WIB
Banjir Thailand Belum Juga Surut, 24 Tewas dan 3,19 Juta Jiwa Terdampak, WNI Diminta Waspada
Senin 05-10-2026,14:18 WIB
Mackenyu Terkejut Disambut Penggemar Jakarta, Akui Suasananya Seperti di Jepang
Senin 05-10-2026,11:49 WIB
Kabut Asap Makin Tebal, Kualitas Udara Palembang Capai Level Berbahaya
Terkini
Selasa 06-10-2026,00:37 WIB
Drama Adu Finalti Bawa Indonesia Juarai Fifa Asian Cup 2026, Ini Skor Akhir Pertandingan
Senin 05-10-2026,22:33 WIB
40 Persen Gen Z Pilih Nikah Sederhana di KUA
Senin 05-10-2026,22:10 WIB
VIVIZ Bergabung dengan Agensi Baru, Siap Kembali Beraktivitas
Senin 05-10-2026,21:21 WIB
Peneliti di Rusia Meninggal Dunia Diduga Terinfeksi Wabah 'Misterius'
Senin 05-10-2026,21:16 WIB