Kenapa Seseorang Bisa Fobia terhadap Sesuatu? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya
ilustrasi orang phobia--
RADARTVNEWS.COM – Ada orang yang gemetar melihat kecoak, panik di ketinggian, atau berkeringat dingin saat melihat jarum suntik. Rasa takut ini bukan sekadar "penakut". Dalam dunia psikologi, kondisi tersebut dikenal sebagai fobia, yakni gangguan kecemasan berupa ketakutan berlebihan terhadap objek atau situasi tertentu. Lalu, mengapa seseorang bisa mengalaminya?
Apa Itu fobia Spesifik?
Menurut Alomedika, fobia spesifik adalah ketakutan yang jelas dan nyata terhadap objek atau situasi tertentu yang tidak sebanding dengan bahaya sebenarnya. Contohnya takut ketinggian, ular, laba-laba, atau terbang. Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyebut sebagian besar penderita menyadari bahwa rasa takutnya berlebihan, tetapi tetap tidak bisa mengendalikannya.
1. Trauma atau Pengalaman Buruk
Menurut detikHealth dan Halodoc, fobia sering bermula dari peristiwa yang menyusahkan, misalnya terjebak di lift, diserang hewan, atau mengalami turbulensi hebat di pesawat hingga takut terbang. Pengalaman itu tidak harus dialami sendiri. Menyaksikan orang lain mengalami kejadian buruk, bahkan mendengar cerita kecelakaan, dapat memicu fobia.
2. Belajar dari Lingkungan dan Keluarga
Seseorang bisa "mewarisi" ketakutan lewat pengamatan. Halodoc menyebut anak yang berulang kali melihat reaksi fobia orang tuanya berisiko tinggi mengembangkan fobia serupa. Karena itu, riwayat keluarga dengan fobia atau gangguan kecemasan menjadi faktor risiko.
3. Faktor Genetik dan Kimia Otak
Sebagian ahli menduga faktor genetik turut berperan, termasuk variasi gen yang mengatur zat kimia otak seperti serotonin dan dopamin yang memengaruhi respons terhadap stres. Namun, kecenderungan genetik saja tidak langsung menimbulkan fobia. Seperti dijelaskan dalam artikel Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan, dua anak bisa sama-sama mudah cemas, tetapi hanya yang pernah nyaris tenggelam di kolam yang kemudian takut pada air.
4. Peran Amigdala di Otak
Pada sebagian penderita, amigdala, bagian otak pengendali emosi dan rasa takut, diduga lebih aktif. Akibatnya, seseorang bisa panik oleh pemicu yang sebenarnya tidak berbahaya. Para ahli menyebut ini masih dugaan dan belum sepenuhnya terbukti.
5. Karakter Pribadi
Halodoc mencatat seseorang lebih berisiko bila cenderung pemalu, pesimis, atau sangat sensitif terhadap kecemasan.
fobia spesifik biasanya mulai muncul pada masa kanak-kanak, sering sebelum usia 4 hingga 8 tahun, dan dapat berasal dari pengalaman awal yang traumatis atau dari anggota keluarga yang memiliki fobia. Namun, fobia juga bisa muncul pada usia dewasa.
Kabar baiknya, fobia dapat ditangani. Alomedika menyebut terapi yang direkomendasikan meliputi intervensi berbasis paparan berulang, terapi kognitif, dan teknik relaksasi, serta obat jangka pendek bila diperlukan. Metode yang umum dipakai adalah terapi paparan atau desensitisasi, yaitu menghadapi objek yang ditakuti secara bertahap di bawah bimbingan profesional, sering dipadukan dengan terapi perilaku kognitif (CBT). fobia yang tidak ditangani cenderung berlangsung kronis dan mengganggu aktivitas sehari-hari.
Bila rasa takut membuat seseorang terus menghindari tempat atau situasi tertentu hingga mengganggu pekerjaan, sekolah, atau hubungan sosial, sebaiknya berkonsultasi ke psikolog atau psikiater. Ini bukan tanda kelemahan, melainkan langkah awal pemulihan.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: detikhealth