Bandar Lampung RADARTVNEWS.COM – Begadang mungkin terasa seperti cara paling mudah untuk mencuri waktu ketika tugas menumpuk, pekerjaan belum selesai, atau aktivitas di media sosial belum ingin dihentikan. Namun, kebiasaan memangkas waktu tidur tidak serta-merta hilang setelah tubuh “dibayar” dengan tidur lebih lama pada akhir pekan. Data Global School-based Student Health Survey (GSHS) Indonesia 2023 menunjukkan 59,8 persen pelajar usia 13–17 tahun tidur kurang dari delapan jam pada malam sekolah, sementara kebutuhan tidur remaja berada pada kisaran 8–10 jam per malam.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kurang tidur masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan pada kelompok usia muda. Tidur yang terlalu singkat bukan hanya menyebabkan kantuk pada siang hari, tetapi juga dapat memengaruhi konsentrasi, daya ingat, suasana hati, hingga kesehatan tubuh dalam jangka panjang. Hampir 6 dari 10 Pelajar Tidur Kurang dari 8 Jam Survei GSHS Indonesia 2023 yang dilakukan pada pelajar usia 13–17 tahun mencatat 59,8 persen responden tidur kurang dari delapan jam pada malam sekolah. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, angkanya mencapai 61,7 persen pada pelajar laki-laki dan 57,6 persen pada pelajar perempuan. Data tersebut menjadi gambaran mengenai durasi tidur remaja Indonesia. Angka ini mengukur lama waktu tidur, bukan frekuensi seseorang begadang, sehingga lebih tepat digunakan untuk melihat persoalan kurang tidur pada pelajar. Kementerian Kesehatan RI menyebut remaja membutuhkan waktu tidur sekitar 8–10 jam setiap malam, sedangkan orang dewasa membutuhkan sekitar 7–9 jam. Kebutuhan tersebut penting karena tidur menjadi bagian dari proses pemulihan tubuh dan mendukung fungsi otak. Begadang Bisa Mengganggu Konsentrasi Salah satu dampak yang paling cepat terasa setelah kurang tidur adalah menurunnya kemampuan berkonsentrasi. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa kurang tidur dapat menyebabkan seseorang mengalami kesulitan berkonsentrasi karena tidur berkaitan dengan proses belajar dan berpikir. Kurang tidur juga dapat memengaruhi daya ingat. Bagi pelajar dan mahasiswa, kondisi tersebut dapat menjadi masalah karena kemampuan berkonsentrasi dan mengingat informasi menjadi bagian penting dalam proses belajar. Dengan kata lain, menambah beberapa jam untuk belajar atau mengerjakan tugas dengan mengorbankan waktu tidur belum tentu membuat seseorang menjadi lebih produktif. Ketika tubuh tidak memperoleh waktu pemulihan yang cukup, kemampuan untuk bekerja secara optimal pada hari berikutnya juga dapat ikut terganggu. Dampaknya Tidak Berhenti pada Rasa Kantuk Kurang tidur yang terjadi berulang kali dapat memberikan dampak yang lebih luas. Kementerian Kesehatan mengaitkan kurang tidur dengan sejumlah gangguan, mulai dari menurunnya konsentrasi dan daya ingat hingga meningkatnya risiko masalah berat badan seperti obesitas. Kurang tidur juga dapat memengaruhi kondisi emosional. Seseorang yang tidak mendapatkan tidur cukup dapat lebih mudah mengalami perubahan suasana hati dan kesulitan mengelola emosi. Dalam jangka panjang, persoalan tidur juga mendapat perhatian dari lembaga kesehatan internasional. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyebut kurang tidur berkaitan dengan berbagai masalah kesehatan, termasuk kecemasan, depresi, obesitas, penyakit jantung, dan cedera. Karena itu, begadang yang dilakukan sesekali dan kebiasaan tidur yang terus-menerus kurang perlu dibedakan. Persoalan menjadi lebih serius ketika kurang tidur berubah menjadi pola yang berlangsung berulang. Benarkah “Balas Tidur” di Akhir Pekan Bisa Menghapus Utang Tidur? Setelah menjalani hari-hari dengan waktu tidur yang pendek, sebagian orang memilih tidur lebih lama pada Sabtu dan Minggu. Tubuh memang dapat terasa lebih segar setelah mendapatkan tambahan waktu tidur, tetapi tidur panjang pada akhir pekan tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mempertahankan kebiasaan tidur yang kurang sepanjang minggu. Kementerian Kesehatan menekankan pentingnya menjaga pola tidur yang teratur sebagai bagian dari kesehatan tidur. Jadwal tidur dan bangun yang konsisten dapat membantu tubuh mempertahankan pola istirahat yang lebih baik. Dalam edukasi kesehatan Kemenkes mengenai tidur berkualitas, menjaga pola tidur yang teratur disebut sebagai salah satu strategi untuk meningkatkan kesehatan tidur. “Strategi untuk meningkatkan kesehatan tidur adalah menjaga pola tidur yang teratur.” Karena itu, tidur lebih lama pada akhir pekan sebaiknya dipandang sebagai kesempatan untuk beristirahat, bukan sebagai pengganti permanen dari pola tidur yang kurang sepanjang hari kerja. Remaja Membutuhkan 8–10 Jam Tidur Kebutuhan tidur berbeda berdasarkan kelompok usia. Menurut Kementerian Kesehatan, remaja membutuhkan sekitar 8–10 jam tidur setiap malam, sedangkan orang dewasa membutuhkan 7–9 jam. Artinya, seseorang yang terbiasa tidur hanya lima atau enam jam setiap malam tidak dapat menganggap pola tersebut cukup hanya karena tubuh sudah terbiasa. Kebutuhan biologis tubuh tetap harus diperhatikan. Pada usia remaja, tidur juga menjadi bagian penting dari proses pertumbuhan dan perkembangan. Karena itu, kebiasaan begadang yang membuat waktu tidur terus-menerus berada di bawah kebutuhan ideal perlu mendapat perhatian. Media Sosial hingga Tugas Bisa Memicu Begadang Kebiasaan tidur larut malam pada anak muda tidak selalu disebabkan oleh satu faktor. Tugas sekolah atau kuliah, pekerjaan, hiburan, penggunaan gawai, hingga aktivitas di media sosial dapat membuat seseorang menunda waktu tidur. Masalah muncul ketika kebiasaan tersebut dilakukan secara terus-menerus. Waktu tidur yang seharusnya digunakan untuk memulihkan tubuh justru dikorbankan demi aktivitas lain. Kementerian Kesehatan juga memasukkan kebiasaan dan lingkungan sebagai hal yang perlu diperhatikan untuk mendapatkan tidur berkualitas. Menciptakan suasana tidur yang nyaman serta mengurangi berbagai hal yang dapat mengganggu waktu tidur menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan tidur. Cara Mengurangi Kebiasaan Begadang Memperbaiki pola tidur tidak harus dilakukan secara drastis. Hal yang paling penting adalah membangun jadwal tidur yang lebih konsisten dan memastikan durasinya sesuai kebutuhan usia. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain mempertahankan waktu tidur dan bangun yang relatif sama setiap hari, menciptakan lingkungan kamar yang nyaman, melakukan relaksasi sebelum tidur, mengelola stres, serta menghindari stimulan menjelang waktu tidur. Bagi remaja, target tidur dapat diarahkan pada 8–10 jam per malam, sementara orang dewasa sekitar 7–9 jam. Data GSHS Indonesia 2023 yang menunjukkan 59,8 persen pelajar usia 13–17 tahun tidur kurang dari delapan jam pada malam sekolah menjadi pengingat bahwa persoalan tidur tidak bisa dianggap sepele. Bagi anak muda yang terbiasa menukar waktu tidur dengan tugas, pekerjaan, bermain gim, menonton film, atau berselancar di media sosial, menambah waktu terjaga tidak selalu berarti menambah produktivitas. Ketika tubuh dan otak kehilangan waktu pemulihan yang cukup, dampaknya justru dapat terasa pada aktivitas keesokan harinya. Tidur bukan sekadar jeda dari aktivitas. Tidur yang cukup dan teratur merupakan bagian penting dari upaya menjaga tubuh tetap sehat dan berfungsi optimal.Sering Begadang, Ini Dampak Bayar 'Hutang Tidur' saat Weekend
Kamis 13-08-2026,12:27 WIB
Reporter : Kathina Octavia
Editor : Jefri Ardi
Tags : ##tidur berkualitas
##kurang tidur
##kesehatan remaja
##kesehatan mental
##kesehatan anak muda
##kemenkes ri
##gshs 2023
##gangguan tidur
##dampak begadang
##begadang
Kategori :
Terkait
Kamis 13-08-2026,12:27 WIB
Sering Begadang, Ini Dampak Bayar 'Hutang Tidur' saat Weekend
Terpopuler
Kamis 13-08-2026,16:06 WIB
Sering Ada di Dapur, Ini Manfaat Bawang Putih bagi Kesehatan yang Perlu Diketahui
Kamis 13-08-2026,12:15 WIB
Hujan Meteor Perseid Capai Puncak 13 Agustus, Langit Indonesia Berpeluang Dihiasi Meteor
Kamis 13-08-2026,18:10 WIB
36 Bangunan dan 12 Kendaraan Terbakar, Antisipasi Aksi Susulan Personil Polisi Disiagakan di PT BSA
Kamis 13-08-2026,19:31 WIB
Pilrek Unila 2027–2031 Resmi Bergulir, Sembilan Nama Mulai Disebut Masuk Bursa Rektor
Kamis 13-08-2026,16:00 WIB
Dirilis 17 Agustus, 100 Persen Hasil Penjualan Toleranshoes Aerostreet Didonasikan untuk Veteran
Terkini
Jumat 14-08-2026,01:12 WIB
Intip Segudang Keunggulan iPhone 18 Pro yang Rilis September 2026
Jumat 14-08-2026,00:24 WIB
Menikmati Segarnya Es Serbat Kweni, Minuman Tradisional Khas Lampung Sarat Tradisi
Kamis 13-08-2026,23:11 WIB
Suka Nonton Anime? Ini 5 Alasan Who Made Me a Princess Wajib Masuk Watchlist
Kamis 13-08-2026,22:58 WIB
Manfaat Semangka untuk Mendukung Kesehatan Jantung
Kamis 13-08-2026,22:57 WIB