RADARTVNEWS.COM - Sebuah promosi tumbler yang awalnya ditujukan untuk menarik pelanggan justru berujung menjadi krisis besar bagi Starbucks Korea. Kampanye bertajuk "Tank Day" memicu boikot, kritik publik, penurunan penjualan, hingga kecaman dari Presiden Korea Selatan.
Kontroversi bermula pada Mei 2026 ketika Starbucks Korea meluncurkan kampanye "Tank Day" untuk mempromosikan seri tumbler berkapasitas besar bernama "Tank".
Masalahnya, promosi tersebut digelar tepat pada 18 Mei, tanggal yang bertepatan dengan peringatan Pemberontakan Demokratik Gwangju 1980.
Bagi masyarakat Korea Selatan, Gwangju bukan sekadar peristiwa sejarah biasa. Peristiwa tersebut dipandang sebagai salah satu tonggak penting dalam perjalanan demokrasi Korea Selatan dan diperingati setiap tahun.
Pada 1980, pasukan militer dikerahkan untuk membubarkan demonstrasi prodemokrasi di Kota Gwangju, yang menyebabkan ratusan orang tewas dan meninggalkan luka mendalam bagi masyarakat Korea Selatan.
Tak hanya nama kampanyenya yang menuai kritik, slogan promosi yang digunakan juga dianggap bermasalah. Frasa "Tak! on the desk" dinilai mengingatkan sebagian masyarakat pada kasus kematian aktivis prodemokrasi Park Jong-cholpada era pemerintahan militer.
BACA JUGA:Film Korea 2026 Humint, Misi Rahasia yang Berubah Jadi Permainan Hidup dan Mati
Karena itu, sejumlah pihak menilai kampanye tersebut tidak sensitif terhadap luka sejarah yang masih membekas di Korea Selatan.
Reaksi publik pun berlangsung cepat. Media sosial dipenuhi kritik terhadap Starbucks Korea. Sejumlah pelanggan menghapus aplikasi keanggotaan mereka, membatalkan pembelian produk, hingga menyerukan boikot terhadap perusahaan.
Kontroversi ini kemudian berkembang menjadi perbincangan nasional dan memicu reaksi dari berbagai kelompok masyarakat.
Menurut laporan Global Korea Post, Presiden Korea Selatan, Lee Jae-myung, turut mengecam kampanye tersebut. Ia menilai penggunaan istilah "Tank Day" pada peringatan Gwangju sebagai tindakan yang tidak pantas dan menegaskan pentingnya menghormati sejarah perjuangan demokrasi serta pengorbanan para korban.
Pernyataan tersebut semakin memperbesar sorotan publik terhadap Starbucks Korea dan memicu desakan agar perusahaan bertanggung jawab atas kampanye yang dianggap menyinggung memori kolektif bangsa.
Tekanan publik yang terus meningkat membuat Starbucks Korea bergerak cepat. Perusahaan menarik kampanye tersebut dan menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat. Tak lama kemudian, CEO Starbucks Korea dicopot dari jabatannya. Shinsegae Group selaku operator Starbucks Korea juga menyampaikan permintaan maaf secara terbuka dan mengakui adanya kelalaian dalam proses peninjauan materi promosi.
Dampak kontroversi ini tidak hanya berhenti pada citra perusahaan. Starbucks Korea mengakui bahwa penjualannya mengalami penurunan signifikan setelah kampanye tersebut menuai kecaman.
Peristiwa ini menunjukkan bagaimana kesalahan dalam memahami konteks sejarah dan budaya dapat berdampak langsung terhadap kepercayaan konsumen.