RADARTVNEWS.COM - Di tengah gempuran tren fashion yang terus berubah cepat, barang vintage dan thrifting justru makin digemari banyak orang, terutama anak muda.
Dulu, barang bekas sering dianggap “kurang keren” atau identik dengan barang murah semata. Tapi sekarang, thrifting malah jadi bagian dari gaya hidup. Mulai dari jaket lawas, kaos band jadul, kamera analog, sampai furnitur vintage, semuanya punya pasar sendiri dan sering diburu karena dianggap unik.
Salah satu alasan kenapa thrifting makin populer adalah karena orang mulai bosan dengan barang yang itu-itu saja. Produk fashion sekarang sering diproduksi massal, jadi banyak orang memakai model yang mirip.
Nah, barang vintage menawarkan sesuatu yang berbeda. Kadang cuma ada satu model di toko thrift dan kemungkinan kecil bakal ketemu orang lain pakai barang yang sama. Buat banyak orang, itu bikin penampilan terasa lebih personal dan punya karakter.
Selain soal gaya, faktor harga juga berpengaruh besar. Tidak semua orang bisa beli pakaian branded baru yang harganya jutaan rupiah. Lewat thrifting, orang bisa mendapatkan brand terkenal dengan harga jauh lebih murah.
Bahkan ada yang sengaja berburu barang vintage langka untuk dijual lagi dengan harga lebih tinggi. Karena itu, thrifting sekarang bukan cuma soal belanja hemat, tapi juga bisa jadi peluang bisnis.
Media sosial juga punya peran besar dalam naiknya tren ini. Di TikTok atau Instagram, banyak konten kreator yang memamerkan hasil thrifting mereka.
Ada yang bikin video “before-after outfit”, ada juga yang menunjukkan proses berburu barang di pasar loak atau toko bekas. Konten seperti itu bikin thrifting terlihat seru dan estetik. Akhirnya banyak orang jadi penasaran dan ikut mencoba.
Menariknya lagi, tren vintage dan thrifting sering dikaitkan dengan kepedulian terhadap lingkungan. Industri fashion dikenal sebagai salah satu penyumbang limbah terbesar di dunia karena produksi pakaian yang sangat cepat atau biasa disebut fast fashion. Banyak pakaian dibuang hanya karena tren berganti.
Dengan membeli barang bekas yang masih layak pakai, orang merasa ikut mengurangi limbah dan memperpanjang umur pakaian tersebut. Jadi selain dapat barang keren, ada rasa lebih ramah lingkungan juga.
Barang vintage sendiri punya daya tarik karena nilai nostalgia. Desain-desain lama sering dianggap punya ciri khas yang tidak dimiliki produk modern sekarang.
Contohnya jaket kulit era 90-an, kamera film, atau kaos band lawas yang desainnya terasa lebih autentik. Bahkan beberapa orang sengaja mencari barang dari era tertentu karena mengingatkan mereka pada masa kecil atau suasana zaman dulu yang dianggap lebih menarik.
Meski begitu, thrifting juga punya tantangan. Tidak semua barang thrift dalam kondisi bagus. Kadang perlu usaha ekstra buat mencari ukuran yang pas atau kondisi barang yang masih layak. Karena itu, banyak orang bilang thrifting lebih mirip “berburu harta karun”. Perlu sabar, teliti, dan kadang juga hoki.
Fenomena ini menunjukkan kalau cara orang melihat barang bekas mulai berubah. Sekarang, nilai sebuah barang tidak cuma dilihat dari apakah itu baru atau mahal, tapi juga dari cerita, keunikan, dan karakter yang dimilikinya.
Vintage dan thrifting akhirnya bukan sekadar tren sementara, tapi sudah jadi bagian dari budaya dan gaya hidup modern yang terus berkembang. (*)