Dalam riwayat lain juga disebutkan bahwa suatu hari ia datang membawa kafilah dagang yang sangat besar ke Madinah, terdiri dari ratusan unta yang membawa berbagai barang dagangan. Ketika mengetahui besarnya pahala sedekah, Abdurrahman kemudian menyedekahkan sebagian besar harta dari kafilah tersebut kepada kaum muslimin yang membutuhkan.
Kedermawanannya ini membuatnya dikenal sebagai salah satu sahabat yang paling banyak membantu perjuangan Islam dengan hartanya.
Selain sebagai pedagang dan dermawan, Abdurrahman bin Auf juga ikut serta dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah, seperti Perang badar, Perang Uhud, dan Perang Khandak. Dalam peperangan tersebut, ia menunjukkan keberanian dan kesetiaan kepada Rasulullah.
Dilansir dari buku Hayatus Sahabah karya Muhammad Yusuf al-Kandhlawi, Abdurrahman bin Auf juga termasuk salah satu sahabat yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah. Hal ini membuat namanya masuk dalam kelompok sepuluh sahabat yang terkenal dengan keutamaannya dalam Islam.
Abdurrahman bin Auf wafat pada tahun 652 M di Madinah pada masa pemerintahan Utsman bin Affan. Ia meninggalkan warisan harta yang sangat besar, namun sebagian besar hartanya telah ia gunakan untuk membantu perjuangan Islam dan menolong orang-orang yang membutuhkan.
Kisah hidup Abdurrahman bin Auf menjadi contoh bahwa kekayaan tidak harus menjauhkan seseorang dari kebaikan. Justru melalui hartanya, ia banyak membantu umat Islam dan memperkuat perjuangan dakwah pada masa Rasulullah. Karena itulah, namanya selalu dikenang sebagai salah satu sahabat Nabi yang sukses dalam dunia usaha sekaligus sangat dermawan. (*)