Ngopi Ala Gen Z, Coffee Shop Bukan Hanya Tempat Minum Kopi

Sabtu 28-02-2026,12:48 WIB
Reporter : MG - Nasywa Nayla Afany
Editor : Reki. M

RADARTVNEWS.COM – Kalau kita perhatikan, sekarang coffee shop hampir selalu ramai oleh anak-anak muda. Dari siang sampai malam, kursi-kursi terisi, laptop terbuka, dan gelas kopi tersusun di meja.

Bahkan saat ini tak sedikit kedai kopi yang tersedia hingga 24 jam. Bagi Gen Z, ngopi sudah bukan sekadar soal minuman, tapi jadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.

Generasi ini memang tumbuh di era serba digital. Mereka terbiasa belajar, bekerja, dan berkomunikasi lewat gadget. Karena itu, coffee shop terasa seperti tempat yang “pas”: Wi-Fi yang mumpuni, aliran listrik dengan stopkontak yang banyak, suasana yang nyaman, dan tentunya kopi atau minuman favorit yang bisa menemani berjam-jam.

Tidak heran kalau banyak mahasiswa memilih mengerjakan tugas di kedai kopi dibandingkan di rumah.

Suasana di kedai kopi juga jadi alasan utama. Dibandingkan kamar yang kadang membuat cepat bosan, dengan coffee shop yang menawarkan ambience lebih hidup.

Dibarengi suara mesin kopi, obrolan pelan dari meja sebelah, dan musik yang mengalun santai selama mengerjakan pekerjaan. Bagi sebagian Gen Z, suasana seperti ini justru membantu mereka lebih fokus dan produktif.

Selain itu, faktor estetika juga tidak bisa dipisahkan. Banyak coffee shop didesain dengan konsep unik dan kekinian. Dinding minimalis, lampu gantung hangat, hingga dekorasi yang menarik menjadi daya tarik tersendiri.

Tidak sedikit yang datang bukan hanya untuk minum kopi, tapi juga untuk berfoto dan membagikannya di media sosial. Bagi Gen Z, pengalaman seperti ini cukup penting yaitu: datang, menikmati suasana, lalu mengabadikannya, sampai-sampai ada bahasa yang sering digunakan Gen Z “kebutuhan ngasih makan sosial media”.

Coffee shop juga sering jadi tempat bertemu dan berdiskusi. Mulai dari rapat kecil komunitas, brainstorming ide bisnis, sampai sekadar nongkrong santai melepas penat.

Tempat ini terasa lebih fleksibel: bisa serius, bisa santai. Bahkan, bagi freelancer atau pekerja remote, coffee shop sering dianggap sebagai “kantor kedua”.

Tren ini juga berkembang karena pola kerja dan belajar yang makin fleksibel. Setelah terbiasa dengan sistem daring, Gen Z merasa tidak harus selalu berada di kantor atau kampus untuk bisa produktif. Selama ada koneksi internet dan suasana yang mendukung, pekerjaan tetap bisa berjalan.

Meski begitu, kebiasaan ngopi di coffee shop tentu ada konsekuensinya. Harga minuman yang berkisar belasan hingga puluhan ribu rupiah bisa terasa cukup menguras kantong jika terlalu sering.

Meski dengan biaya lebih, banyak yang merasa biaya ngopi di coffee shope  sepadan dengan kenyamanan dan pengalaman yang kemudian menjadi standar kebutuhan sehari-hari.

Pada akhirnya, tren ngopi ala Gen Z bukan cuma tentang kopi. Tetapi juga soal mencari ruang untuk bersosialisasi, mengekspresikan diri, dan tetap produktif di tengah kesibukan. Coffee shop jadi semacam titik temu antara kerja, pertemanan, dan gaya hidup.

Bisa dibilang, bagi Gen Z, secangkir kopi lebih dari sekadar minuman. Ia jadi teman berpikir, teman ngobrol, sekaligus bagian dari cerita sehari-hari mereka. (*)

Kategori :