Begitulah indahnya susunan doa ini. Ia merangkum seluruh kebutuhan manusia: pengampunan, kasih sayang, perbaikan diri, kemuliaan, rezeki, petunjuk, kesehatan, dan pembersihan dosa. Dunia dan akhirat. Lahir dan batin.
Namun sering kali, kita membacanya tanpa hati. Lisan bergerak, pikiran melayang. Duduk di antara dua sujud terasa seperti jeda singkat yang harus segera dilalui.
Padahal di situlah kita sedang mengetuk pintu langit.
Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berdoa. Rasulullah SAW mencontohkan agar kita berdoa dengan hati yang yakin akan dikabulkan. Maka persoalannya bukan pada panjang atau pendeknya doa, melainkan pada hadirnya hati.
Bagaimana mungkin kita berharap doa dikabulkan, jika kita sendiri tak mengerti apa yang kita ucapkan?
Sudah saatnya kita memperlambat duduk di antara dua sujud. Menghadirkan tuma’ninah. Mengucapkannya dengan kesadaran penuh bahwa kita benar-benar sedang meminta.
Bayangkan, dalam setiap rakaat, kita membawa seluruh beban hidup kita ke hadapan Allah—dan Dia membuka ruang untuk kita memohon.
Maka jangan tergesa-gesa.
Resapi setiap kata. Pahami setiap makna. Tafakuri dan tadabburi bacaan salat kita. Karena boleh jadi, perubahan hidup kita tidak dimulai dari doa yang panjang, tetapi dari satu doa pendek yang dihayati dengan sungguh-sungguh.
“Rabbighfirlii, warhamnii…”
Semoga setiap duduk di antara dua sujud menjadi saat paling jujur antara kita dan Allah. Aamiin. (*)