Dalam satu kata, kita meminta agar segala yang retak diperbaiki, yang kurang dicukupkan, yang rusak dipulihkan.
“Warfa’nii” — Angkatlah derajatku.
Kita hidup di dunia yang penuh penilaian. Kadang dihina, diremehkan, dipandang sebelah mata. Namun ketika Allah yang meninggikan derajat seseorang, tak ada satu pun makhluk yang mampu merendahkannya.
Derajat yang kita minta bukan sekadar kedudukan dunia, melainkan kemuliaan di sisi-Nya.
“Warzuqnii” — Berilah aku rezeki.
Kita adalah hamba yang bergantung. Rezeki bukan hanya soal harta, tetapi juga ilmu, keluarga yang saleh, waktu yang berkah, dan hati yang lapang. Allah mampu mendatangkan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
Dalam doa singkat ini, kita menyerahkan seluruh kebutuhan hidup kepada Dzat Yang Maha Kaya.
“Wahdinii” — Berilah aku petunjuk.
Hidup adalah rangkaian pilihan. Tanpa petunjuk, kita mudah tersesat. Kita memohon agar dibimbing ke jalan yang benar—dalam ibadah, dalam pekerjaan, dalam mengambil keputusan, dalam menghadapi ujian.
Petunjuk adalah cahaya. Tanpanya, langkah hanya akan meraba-raba dalam gelap.
BACA JUGA:Deretan Sholat Sunnah yang Jarang Dilakukan, Tapi Berefek Besar untuk Kehidupan
“Wa ‘aafinii” — Berilah aku kesehatan.
Sehat bukan hanya jasmani, tetapi juga rohani. Tubuh yang kuat memudahkan kita beribadah. Jiwa yang sehat membuat kita bermanfaat. Dengan kesehatan, kita bisa memberi, bukan menjadi beban.
Betapa sering nikmat ini baru terasa ketika ia diambil.
“Wa’fu ‘annii” — Maafkanlah aku.
Doa ini dimulai dengan ampunan dan ditutup dengan permohonan maaf. Seolah kita diajarkan bahwa hidup yang baik harus diawali dan diakhiri dengan kesadaran akan dosa. Kita tidak hanya ingin diampuni, tetapi juga dihapuskan kesalahannya, dibersihkan catatannya.