Bau Amis Perebutan Kursi Basah di Ladang Sampah

Sabtu 24-01-2026,20:08 WIB
Reporter : Syamsudin

“Amis itu wajar, Mas. Bau amis berasal dari penguraian senyawa Trimethylamine Oxide atau TMAO menjadi Trimethylamine oleh bakteri dan enzim setelah ikan mati. Senyawa itulah yang bikin amis.”

Pria bercaping terperangah.

“Wah, jawaban cerdas, Pak.”

Pak Ngok terkekeh.

“Biar amis asal halal,” ujarnya bergurau.

“Iya, Pak. Daripada wangi tapi kerjanya nipu orang,” timpal pria bercaping.

“Benar sekali,” sahut Pak Ngok. “Banyak yang sibuk menjilat pimpinan demi kursi empuk. Lah, kursi saya ini,” katanya sambil menunjuk kursi plastik usang di sampingnya, “nggak perlu lelang atau uji kompetensi.”

“Iya, Pak. Lidah mereka bisa kelu kalau kebanyakan jilat,” balas pria bercaping. “Apalagi sudah capek-capek jilat, eh ternyata kursi empuknya harus pakai saweran atau mahar.”

“Maksudnya saweran bagaimana, Mas?” tanya Pak Ngok penasaran.

“Begini, Pak. Kursi empuk di pemerintahan antah-berantah itu harganya bisa lebih mahal dari kursi di toko mebel. Jual beli jabatan sudah jadi hal biasa. Mau duduk di tempat basah, ya harus bayar mahar.”

Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Mirisnya, pimpinan sendiri yang mematok harga. Dua ratus sampai tiga ratus juta, bahkan lebih—tergantung basah tidaknya kursi itu.”

Pak Ngok mengangkat kursi plastiknya sambil tertawa.

“Lah, kalau begitu kursi saya ini basah terus, Mas. Maharnya mahal dong?”

“Iya dong, Pak,” jawab pria bercaping sambil terkekeh. “Coba Bapak tawarkan ke pejabat yang nggak kebagian kursi basah. Siapa tahu laku.”

Setelah tertawa bersama, pria bercaping pamit.

“Pak, saya buru-buru pulang. Kalau kesiangan, istri di rumah bisa marah. Terima kasih, ya.”

Tags :
Kategori :

Terkait