RADARTVNEWS.COM — Tim arkeolog gabungan dari Prancis dan Arab Saudi berhasil menemukan reruntuhan kota kuno yang diperkirakan berusia sekitar 4.000 tahun di wilayah barat laut Arab Saudi.
BACA JUGA:China Kembangkan Robot Pemadam Kebakaran Berbasis AI, Siap Masuk ke Zona Berbahaya Tanpa Risiko Jiwa
Kota tersebut dikenal dengan nama Al-Natah, dan penemuan ini diyakini menjadi bukti penting bahwa peradaban di Jazirah Arab telah berkembang jauh lebih maju dari yang selama ini diperkirakan.
Menurut laporan dari Saudi Heritage Commission dan CNRS (Centre National de la Recherche Scientifique) Prancis, penggalian di wilayah oasis Khaybar itu mengungkap sisa-sisa permukiman seluas sekitar 2,6 hektare.
Struktur kota tersebut meliputi rumah-rumah bertingkat, sistem sosial yang kompleks, hingga bukti adanya kegiatan perdagangan yang aktif.
Arkeolog menemukan tembikar, manik-manik, dan senjata logam di lokasi tersebut, yang memberikan petunjuk tentang kehidupan sosial dan ekonomi masyarakatnya pada masa itu.
Analisis awal menunjukkan bahwa Al-Natah berfungsi sebagai pusat perdagangan penting di tengah jalur karavan kuno yang melintasi Jazirah Arab menuju Levant dan Mesir.
Yang membuat situs ini luar biasa adalah kondisinya yang relatif terjaga utuh karena tertimbun lapisan batu vulkanik hitam selama ribuan tahun.
Para ahli memperkirakan letusan gunung berapi di wilayah itu menyebabkan kota tersebut tertutup dan terlindungi dari erosi serta aktivitas manusia.
Penemuan ini menjadi bagian dari proyek besar "Saudi-French Archaeological Mission in Khaybar", yang bertujuan memetakan jejak peradaban kuno di wilayah barat laut Arab Saudi.
Proyek ini juga terkait dengan upaya pemerintah Saudi dalam inisiatif "Vision 2030" untuk mempromosikan warisan budaya dan pariwisata sejarah.
Seorang arkeolog dari CNRS, Dr. Laïla Nehmé, mengatakan kepada CNN bahwa penemuan Al-Natah menunjukkan adanya “masyarakat yang sudah memiliki sistem arsitektur dan organisasi sosial canggih jauh sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di wilayah itu.”
Dengan semakin banyaknya temuan semacam ini, para ilmuwan meyakini bahwa Jazirah Arab bukan hanya sekadar daerah gurun tandus di masa lalu, tetapi juga pusat penting pertukaran budaya dan ekonomi antara peradaban kuno Timur Tengah.