RADARTVNEWS.COM - 9 April 2025 - Migrain adalah jenis nyeri kepala primer yang sering dialami oleh banyak orang. Gejalanya meliputi nyeri berdenyut pada salah satu sisi kepala, mual, muntah, serta sensitivitas terhadap cahaya dan suara. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa migrain lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Perbedaan ini diduga berkaitan dengan fluktuasi hormon reproduksi, terutama hormon estrogen.
Mengutip jurnal The Journal of Headache and Pain, penurunan kadar estrogen menjelang menstruasi dapat memicu migrain. Fenomena ini dikenal dengan istilah estrogen withdrawal, yang menjadi penyebab utama migrain menstruasi pada wanita. Selain itu, perubahan kadar hormon selama ovulasi dan menopause juga memengaruhi sistem saraf pusat, khususnya mekanisme pengolahan nyeri di otak, yang dapat meningkatkan sensitivitas terhadap pemicu migrain lainnya. Dalam publikasi National Center for Biotechnology Information (NCBI) melalui jurnal Frontiers in Neurology, dijelaskan bahwa estrogen berperan dalam modulasi neurotransmitter seperti serotonin, dan ketidakseimbangan hormon ini dapat merubah ambang nyeri serta memicu serangan migrain.
Menurut dr. Azaria, migrain adalah kondisi yang perlu ditangani dengan serius, tidak hanya dengan pengobatan. Beberapa langkah yang dapat membantu mengelola migrain antara lain: menghindari pemicu seperti makanan tertentu (misalnya cokelat, keju tua, MSG, kopi, dan alkohol), stres berlebihan, serta gangguan pola tidur. Selain itu, mencatat pola migrain dapat membantu dokter menentukan terapi yang tepat. Konsultasi rutin dengan dokter sangat dianjurkan, terutama jika frekuensi migrain meningkat atau nyeri semakin berat. Terapi hormonal bisa menjadi pilihan pada kasus tertentu, namun penggunaannya harus selalu diawasi oleh tenaga medis.
Migrain memang bukan kondisi yang mengancam jiwa, namun jika tidak ditangani dengan tepat, bisa memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Oleh karena itu, deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat disarankan.