Mengenal Tiwul, Kuliner Tradisional Jawa Kaya Sejarah
Tampak olahan tiwul manis khas Jawa berbentuk butiran kecil berwarna kecokelatan yang diberi taburan kelapa parut di atas tampah kayu.-- Dokumentasi Asli ( Kompas.com ).
RADARTVNEWS.COM – Tiwul merupakan salah satu makanan tradisional ikonik khas Jawa yang terbuat dari olahan singkong kering atau gaplek. Kuliner yang sangat lekat dengan wilayah Gunungkidul, Wonogiri, dan Pacitan ini memiliki sejarah panjang yang sarat akan nilai perjuangan, kreativitas, serta ketahanan pangan masyarakat di kawasan pegunungan kapur.
Lahirnya tiwul berkaitan erat dengan kondisi geografis wilayah karst yang cenderung kering dan sulit ditanami padi secara optimal. Pada masa lalu, terutama saat terjadi kemarau panjang dan masa krisis pangan di era penjajahan, harga beras melambung tinggi sehingga masyarakat mengandalkan singkong sebagai alternatif bahan pangan utama karena mudah ditanam di lahan kering.
Selama era perang kemerdekaan, tiwul bertransformasi menjadi ransum andalan bagi para pejuang di medan gerilya. Sifatnya yang praktis, tahan lama, serta mengenyangkan menjadikan makanan ini penyelamat pasukan dari ancaman kelaparan. Bagi keluarga yang memiliki pasokan beras terbatas, tiwul kerap dicampurkan bersama sedikit nasi hingga melahirkan istilah populer nasi tiwul.
Keunikan tiwul terletak pada proses pembuatannya yang membutuhkan kesabaran melalui pemanfaatan bahan dasar gaplek. Singkong segar terlebih dahulu dikupas, dicuci bersih, lalu dijemur di bawah terik matahari hingga mengering sempurna. Setelah ditumbuk menjadi tepung, adonan diberi percikan air lalu digoyang di atas tampah hingga membentuk butiran-butiran kecil sebelum akhirnya dikukus.
BACA JUGA:Kuliner Tradisional Berau Didorong Jadi Produk Usaha dan Daya Tarik Wisata
Dari segi cita rasa dan tekstur, tiwul memiliki karakter kenyal namun lembut dengan aroma khas singkong kering yang harum. Sajian ini sangat fleksibel untuk dinikmati, baik sebagai makanan pokok berdampingan dengan sambal, tahu, tempe, dan sayur pedas, maupun diolah menjadi penganan manis bersama taburan kelapa parut dan siraman gula merah.
Selain kaya akan nilai historis, tiwul juga dikenal ramah bagi kesehatan karena memiliki kadar gula dan kalori yang lebih rendah dibandingkan nasi putih serta mengandung serat tinggi. Kini, citra tiwul telah bergeser dari makanan penanggulangan krisis menjadi warisan kuliner Nusantara yang dibanggakan, bahkan telah berkembang dalam berbagai inovasi rasa modern.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: