Dari Isu Global ke Realita Lokal: Hari Bumi dan Wajah Krisis Lingkungan Hari Ini
Aksi Hari Bumi di Tugu Adipura, Lampung.-Dokumentasi Pribadi-
RADARTVNEWS.COM - Setiap 22 April, dunia memperingati Hari Bumi sebagai pengingat kondisi lingkungan yang terus mengalami kerusakan. Peringatan ini pertama kali muncul di Amerika Serikat pada 1970, dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap kerusakan lingkungan, salah satunya setelah kasus tumpahan minyak di Santa Barbara, California pada 1969 yang merusak ekosistem pesisir.
Sejak itu, Hari Bumi berkembang menjadi gerakan global yang membahas berbagai isu lingkungan yang semakin luas. Tidak hanya soal pencemaran, tapi juga perubahan iklim, deforestasi, hingga bencana ekologis yang terus terjadi di berbagai wilayah dunia.
Dampaknya kini juga mulai terasa dalam kehidupan sehari-hari. Suhu yang meningkat, cuaca yang tidak menentu, serta kejadian ekstrem yang lebih sering terjadi menjadi bagian dari kondisi yang semakin umum ditemui.
Di Indonesia sendiri tekanan terhadap lingkungan datang dari berbagai arah. Perubahan fungsi lahan, perluasan kawasan industri, hingga pembangunan yang berjalan cepat tanpa selalu diimbangi perlindungan lingkungan yang memadai menjadi faktor yang ikut memperburuk kondisi.
Ruang hijau yang semakin berkurang dan daerah resapan air yang menyempit juga memperlihatkan bagaimana tekanan terhadap lingkungan terus meningkat seiring kebutuhan pembangunan.
Di Lampung, kondisi ini juga terlihat dari beberapa kejadian yang berulang, salah satunya banjir di Kota Bandar Lampung. Meski sering dikaitkan dengan curah hujan tinggi, ada faktor lain yang ikut berpengaruh, seperti perubahan tata ruang dan berkurangnya daerah resapan air akibat pembangunan yang terus berjalan.
Situasi ini tidak hanya terjadi di satu daerah. Di berbagai wilayah Indonesia, pola yang sama juga muncul, di mana bencana lingkungan terjadi berulang tanpa penanganan yang benar-benar menyentuh akar masalahnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: