Teman yang Maunya Dipahami, Tapi tak Pernah Memahami
Teman yang Tidak Suka Jika Temannya Bahagia --Freepik
RADARTVNEWS.COM — Pertemanan tidak selalu retak karena pertengkaran besar. Kadang, Pertemanan bisa hancur ketika saat masalah kecil terus berulang. Salah satunya ketika ada satu orang yang ingin selalu dimengerti, tetapi jarang benar-benar berusaha memahami orang lain.
Fenomena seperti ini cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari.Dalam circle pertemanan, biasanya ada teman yang ingin suasana hatinya selalu dipahami, ingin sikapnya dimaklumi, dan berharap orang lain peka tanpa perlu banyak penjelasan. Saat ia sedang lelah, sedih, atau kesal, semua orang di sekitarnya seolah dituntut untuk mengerti. Namun ketika posisi itu berbalik, respons yang diberikan belum tentu setara.
Hal-hal seperti ini sering muncul dalam bentuk yang sederhana. Misalnya, ketika ia terlambat, orang lain diminta maklum. Ketika ia membatalkan janji, alasannya dianggap wajar. Saat ia tiba-tiba menjauh, orang-orang di sekitarnya diminta paham bahwa ia sedang banyak pikiran. Tapi ketika orang lain melakukan hal serupa, dia tidak suka dan tidak pernah memberikan pengertian yang sama. Dari situ, pertemanan yang awalnya terasa dekat perlahan bisa berubah menjadi melelahkan.
Dalam banyak pertemanan, ada orang-orang yang tanpa sadar selalu mengambil posisi sebagai pihak yang mengerti. Mereka lebih sering menyesuaikan diri, menahan kecewa, dan memilih diam agar suasana tetap baik-baik saja. Mereka peka, berusaha menjaga hubungan, dan tidak ingin memperbesar masalah. Namun jika itu terus terjadi, pastinya akan lelah. Bukan karena membenci temannya, melainkan karena capek terus memahami tanpa benar-benar dipahami balik.
Masalahnya, pertemanan yang tidak seimbang sering dianggap hal biasa. Banyak orang mengira selama masih sering bercanda, nongkrong, atau bertukar cerita, berarti pertemanan itu baik-baik saja. Padahal, kedekatan bukan cuma soal sering bersama, tetapi juga soal apakah dua orang di dalamnya sama-sama punya ruang untuk didengar.
Memahami orang lain bukan sekadar mendengarkan cerita mereka. Ada kepekaan yang perlu dibangun, ada kesediaan untuk melihat bahwa orang lain juga bisa lelah, kecewa, atau sedang tidak ingin banyak bicara. Tidak semua orang pandai menjelaskan apa yang mereka rasakan. Kadang, mereka hanya ingin diperlakukan dengan pengertian yang sama seperti yang selama ini mereka berikan.
Di tengah kebiasaan banyak orang yang ingin didengar, kemampuan untuk mendengar balik justru jadi hal yang semakin penting.
Pertemanan yang sehat bukan tentang siapa yang paling sering dimaklumi, tetapi siapa yang sama-sama mau memberi ruang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: