BANNER HEADER DISWAY HD

Ngerasa Relapse Padahal Udah Putus Lama? Ini Alasan dan Cara Mengatasinya

Ngerasa Relapse Padahal Udah Putus Lama? Ini Alasan dan Cara Mengatasinya

ilustrasi-foto: Pinterest-

RADARTVNEWS.COM - Berpisah dari seseorang yang pernah deket bukan berarti luka langsung hilang begitu saja. Banyak ornag yang merasa “udah move on”, tapi tiba-tiba muncul rasa kangen, galau, atau bahkan kepengen balik lagi ke hubungan lama. Fenomena ini sering disebt sebagai relapse emosional setelah putus atau berpisah dengan seseorang, dan ternyata ini lebih umum daripada yang kita kira.

Relapse setelah putus atau berpisah dengan seseorang biasanya muncul karena beberapa faktor psikologis dan emosional. Salah satunya adalah kenangan yang masih melekat. Hal-hal kecil seperti chat lama, foto bersama, atau bahkan lagu yang dulu sering didengarkan bisa memicu rasa kangen secara otomatis. Otak kita cenderung menempel pada kenangan manis karena dulu kebiasaan itu memberi rasa nyaman. Jadi, ketika rutinitas atau kebiasaan itu hilang, secara alami otak mencari “pengganti” untuk rasa nyaman tersebut.

Selain itu, rasa kesepian dan kondisi emosional juga sangat berpengaruh. Saat sedang stres, galau, atau bosan, pikiran kita cenderung memanggil kenangan masa lalu untuk menenangkan perasaan. Hal ini sering membuat kita merasa relapse, padahal sebenarnya itu hanya respons alami tubuh terhadap perubahan besar dalam hidup. Kadang, tanpa sadar, kita membandingkan kehidupan sekarang dengan masa lalu, yang membuat rasa ingin kembali semakin kuat.

Faktor lain yang sering diabaikan adalah kebiasaan yang terbentuk selama hubungan. Saat menjalin hubungan, kita terbiasa berbagi hampir segala hal—mulai dari makan bersama, menonton film, hingga curhat harian. Ketika kebiasaan ini hilang, ada kekosongan emosional yang bikin kita sering “tertarik” kembali ke hubungan lama. Relapse muncul sebagai cara otak untuk mengisi kekosongan itu, bukan karena kita gagal atau lemah.

Kalau relapse terlalu sering muncul, hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali pemicu. Pemicu bisa berupa situasi, tempat, orang, atau bahkan objek tertentu yang membuat pikiran kita kembali ke mantan. Misalnya, scroll media sosial mantan, mendengar lagu yang dulu sering diputar, atau bertemu teman yang mengingatkan kita tentang dia. Dengan mengenali pemicu, kita bisa mulai menyiapkan strategi menghadapi perasaan tersebut sebelum terasa overwhelming.BACA JUGA:Bingung Mikirin Outfit Setiap Hari? Ini Cara Menyesuaikan Outfit Untuk Aktivitas Sehari-hari

Selanjutnya, membangun rutinitas baru yang sehat sangat penting. Isi waktu dengan kegiatan yang positif dan produktif, seperti olahraga, belajar hal baru, menekuni hobi, atau fokus pada pekerjaan. Aktivitas ini tidak hanya mengalihkan perhatian dari kenangan lama, tetapi juga memberi rasa pencapaian dan kepuasan pribadi. Semakin kita sibuk dan fokus pada diri sendiri, semakin jarang rasa relapse muncul.

Selain itu, memberi ruang untuk merasakan emosi juga perlu dilakukan. Jangan menekan perasaan galau, sedih, atau rindu, karena itu justru bisa membuat relapse terasa lebih intens. Mengakui dan mengekspresikan emosi melalui menulis jurnal, curhat dengan teman terpercaya, atau terapi bisa membantu melepaskan perasaan tanpa harus kembali ke hubungan lama. Penting diingat, move on bukan berarti melupakan sepenuhnya, tapi belajar hidup berdampingan dengan kenangan tanpa membiarkannya menguasai diri.

Dukungan sosial juga memainkan peran besar dalam mengurangi relapse. Berbicara dengan teman atau keluarga yang mengerti kondisi kita bisa membantu mengurangi beban emosional. Dalam beberapa kasus, bantuan profesional seperti psikolog atau konselor sangat bermanfaat untuk memahami pola relapse, memberi strategi coping yang efektif, dan membantu proses move on menjadi lebih sehat. Mencari bantuan profesional bukan tanda lemah, tapi bentuk kepedulian terhadap diri sendiri.

Intinya, relapse setelah putus atau berpisah dengan seseorang adalah hal yang wajar dan bukan tanda kegagalan. Semua orang bisa mengalaminya, bahkan yang terlihat “cepat move on”. Yang terpenting adalah bagaimana kita mengenali perasaan itu, memahami pemicu, dan menyiapkan strategi menghadapi emosi. Dengan kesadaran, dukungan, dan waktu, rasa relapse akan semakin jarang muncul, dan kita bisa melangkah ke fase baru dalam hidup dengan lebih kuat, lebih percaya diri, dan lebih siap membangun hubungan yang sehat di masa depan.BACA JUGA:Tips Make Up Sehari-hari yang Simpel dan Cepat Tapi Tetap Terlihat Cantik, Fresh, dan Natural

 

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: