BANNER HEADER DISWAY HD

Angka Pernikahan di Indonesia Turun Drastis, Ini Alasannya

Angka Pernikahan di Indonesia Turun Drastis, Ini Alasannya

Data Jumlah Pernikahan di Indonesia (2013-2023)-Pinterest: PT. Karunia Media Kreatif-

RADARTVNEWS.COM - Angka Pernikahan di Indonesia terus menurun dan kini menyentuh titik terendah dalam satu dekade terakhir. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, tren joanna mencerminkan perubahan besar cara generasi muda memandang pernikahan. Trend Joanna adalah salah satu trend generasi muda saat ini untuk mengejar impiannya dan mengesampingkan pernikahan.

Pada tahun 2023, jumlah perkawinan di Indonesia tercatat hanya sekitar 1,4 juta. Angka tersebut turun cukup tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan tahun 2022, jumlah pernikahan berkurang sekitar 128 ribu pasangan secara nasional.

Penurunan ini terjadi bukan baru-baru ini. Dalam kurun waktu 1 dekade dari tahun 2014 hingga 2024, BPS mencatat total perkawinan di Indonesia menyusut hampir 29 persen. Ini berarti, ada lebih dari 632 ribu pasangan yang “hilang” dari angka pernikahan nasional jika dibandingan dengan satu dekade lalu.

Kondisi ini menjadi Perhatian, karena berdampak langsung pada struktur sosial kependudukan hingga perencanaan pembangunan jangka Panjang.

Mengutip data dari BPS yang dipublikasikan melalui Indonesia Baik, laman resmi Kementrian Komunikasi dan Digital (KemenKomDig), mayoritas pemuda Indonesia kini bertatus belum menikah.

Jumlah pemuda yang belum menikah melonjak signifikan. Dari 58,10 persen pada 2016, angkanya meningkat menjadi 71,04 pada 2025. Artinya, pada tahun 2025 sekitar tujuh dari sepuluh pemuda berusia 16-30 tahun tercatat belum menikah. Hanya sekitar satu dari empat pemuda yang memasuki jenjang pernikahan.

Berdasarkan Data BPS Resmi, gambaran status perkawinan pemuda Indonesia pada tahun 2025 sebagai berikut:

*Belum Kawin: 71,04 persen

*Kawin: 27,92 persen

*Cerai hidup atau Cerai mati: 1,04 persen

Data diatas menegaskan bahwa kelompok pemuda lajang kini menjadi mayoritas mutlak. Fenomena tersebut mencerminkan perubahan struktur sosial yang cukup signifikan di kalangan generasi muda Indonesia.

Menurunnya angka pernikahan ini turut menjadi sorotan Kementrian Agama. Pemerintah menggulirkan beberapa program, mulai dari bimbingan remaja usia sekolah, Pendidikan Kesehatan reproduksi, hingga inisiatif GAS Nikah yang dijalankan oleh pemerintah pusat dan daerah.

Para pengamat menilai, bahwa naiknya jumlah pemuda lajang disebabkan oleh banyak faktor mulai dari dinamika sosial yang kompleks, Pendidikan lebih Panjang, hingga kesiapan mental yang mempengaruhi Keputusan menikah.

Tren ini menjadi bukti bahwa pergeseran cara pandang generasi mud aitu sangat berpengaruh terhadap fase kehidupan dewasa. Status nikah saat ini bukan lagi tolak ukur kedewasaan, melainkan bagian dari pilihan hidup yang dipertimbangkan secara lebih matang. (*)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: