Iran Terancam Chaos, Demonstrasi Meluas hingga Internet Diputus
Demonstrasi Warga Iran yang Turun ke Jalan -Foto : Tangkapan Layar-
RADARTVNEWS.COM - Iran kian mendekati situasi chaos. Pemerintah Iran memutus akses internet dan saluran telepon internasional ke seluruh negeri pada Kamis malam, 8 Januari 2026, menyusul meluasnya aksi demonstrasi di berbagai kota. Langkah ini diambil di tengah gelombang protes besar-besaran yang terus membesar sejak akhir Desember lalu.
Dilansir dari NDTV, para pengunjuk rasa berteriak dari jendela rumah mereka sebelum turun ke jalan. Aksi protes ini disebut dipengaruhi oleh Reza Pahlavi, putra dari penguasa Syah Iran yang digulingkan dalam Revolusi Islam 1979. Seruan demonstran pun berkembang, tak hanya menyoal ekonomi, tetapi juga menuntut perubahan rezim.
Bentrokan antara demonstran dan aparat keamanan telah menelan korban jiwa. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia yang berbasis di Amerika Serikat melaporkan sedikitnya 45 orang tewas dan lebih dari 2.270 orang ditahan. Namun, televisi pemerintah Iran tidak menyinggung pemadaman internet yang berdampak pada lebih dari 85 juta penduduk. Siaran televisi nasional justru menampilkan program subsidi pangan pada Jumat pagi.
Meski demikian, televisi pemerintah menayangkan gambar-gambar kerusuhan yang memperlihatkan bus, mobil, dan sepeda motor terbakar, serta kebakaran di stasiun metro dan bank. Pemerintah Iran menuding Organisasi Mujahidin Rakyat (MKO), kelompok oposisi yang memisahkan diri pasca Revolusi Islam 1979, sebagai dalang di balik kerusuhan tersebut.
Seorang jurnalis televisi pemerintah yang melaporkan langsung dari Jalan Shariati di pelabuhan Rasht, Laut Kaspia, menggambarkan situasi mencekam. “Ini terlihat seperti zona perang — semua toko telah hancur,” ujarnya di depan kobaran api.
BACA JUGA:Prabowo Subianto Terima Gelar Kehormatan Tertinggi dari Presiden Pakistan
Khamenei Tuding AS, Trump Ancam Iran
Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menuding Amerika Serikat berada di balik aksi-aksi unjuk rasa yang melanda puluhan kota, termasuk Teheran, sejak akhir Desember. BBC melaporkan hingga 9 Januari, sedikitnya 48 demonstran dan 14 personel keamanan tewas, sementara lebih dari 2.217 orang ditangkap.
Menurut aktivis HAM, kerusuhan ini memicu perang pernyataan antara Iran dan Amerika Serikat. Khamenei menyebut para demonstran antipemerintah sebagai “pembuat onar” yang berupaya “memenuhi keinginan Presiden AS”. Iran bahkan mengirim surat kepada Dewan Keamanan PBB, menuduh AS mengubah protes menjadi “tindak kekerasan subversif dan vandalisme yang meluas”.

Aksi Vandalisme Demonstran yang berunjuk rasa terhadap Pemerintahan Iran-Foto : Tangkapan Layar-
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman keras. Ia memperingatkan Iran agar tidak melakukan tindakan brutal terhadap demonstran. “Kami akan menyerang Iran dengan keras di tempat paling menyakitkan,” kata Trump di Gedung Putih, Jumat (9/1). Ia menegaskan, AS memantau situasi dengan cermat tanpa harus mengerahkan pasukan di lapangan.
Melalui platform Truth Social, Trump kembali menulis ancamannya. “Jika Iran menembak dan membunuh demonstran damai secara brutal, seperti kebiasaan mereka, Amerika Serikat akan datang untuk menolong mereka. Kami siap mengambil tindakan,” tulisnya.
Menanggapi ancaman tersebut, Khamenei dalam pidato televisinya menegaskan bahwa Republik Islam “dibangun melalui darah ratusan ribu orang yang mulia” dan tidak akan mundur menghadapi pihak-pihak yang menentangnya. Ia menegaskan Iran “tidak akan mundur dalam menangani unsur-unsur destruktif”.
BACA JUGA:Israel Tetap Diizinkan Tampil di Eurovision, Empat Negara Eropa Nyatakan Boikot
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
