Empat Tahun Berkuasa, Paul Biya Kembali Pertahankan Kursi Presiden
Paul Biya--Istimewa
RADARTVNEWS.COM - Paul Biya kembali dinyatakan sebagai pemenang pemilihan presiden Kamerun dalam pengumuman resmi yang dirilis oleh Dewan Konstitusional pada Senin, memperpanjang era kepemimpinannya yang sudah berlangsung lebih dari empat dekade. Berdasarkan hasil resmi, Biya memperoleh sekitar 53,6–53,7% suara, sementara pesaing utamanya, mantan menteri Issa Tchiroma Bakary, tercatat meraih sekitar 35,2–35,3% suara.
Kemenangan ini menempatkan Biya, yang kini berusia 92 tahun sebagai salah satu pemimpin tertua di dunia yang terus memegang jabatan eksekutif, dan membuka kemungkinan ia akan tetap berkuasa hingga hampir mencapai usia seabad jika menyelesaikan masa jabatan yang baru.
Kritik terhadap pencalonan dan gaya pemerintahannya muncul sejak lama, termasuk tuduhan bahwa larangan batas masa jabatan yang dicabut memberi jalan bagi dominasi politik yang berkepanjangan.
Proses pengumuman hasil diwarnai ketegangan: laporan independen dan oposisi menyebut adanya aksi protes besar, bentrokan dengan aparat keamanan, serta beberapa korban jiwa dan ratusan penangkapan di kota-kota besar, terutama Douala.
BACA JUGA:Militer Ambil Alih Kekuasaan Usai Presiden Madagaskar Dimakzulkan Parlemen
Pendukung Tchiroma menolak hasil resmi dan mengklaim kecurangan serta intimidasi pemilih; otoritas menyanggah tudingan itu dan mengatakan proses berjalan sesuai ketentuan. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan potensi gelombang protes lanjutan.
BACA JUGA:Presiden Dina Boluarte Dimakzulkan, Jose Jeri Resmi Pimpin Peru
Dari perspektif politik domestik, kemenangan Biya mencerminkan ketegangan antara sisa-infrastruktur politik rezim lama dan harapan generasi muda yang mayoritas frustrasi karena lapangan kerja terbatas, ketimpangan ekonomi, serta konflik separatis di wilayah berbahasa Inggris dan ancaman ekstremis di utara. Analis menyebut bahwa legitimasi pemerintahan ke depan akan bergantung pada kemampuan meredam ketidakpuasan masyarakat dan membuka ruang dialog nasional yang kredibel.
Di kancah internasional, reaksi beragam: beberapa duta besar Barat dilaporkan menarik diri dari pengumuman resmi, sementara perwakilan dari negara lain hadir, memperlihatkan perpecahan dalam sikap global terhadap hasil pemilu. Pengumuman ini juga menambah perdebatan lebih luas di Afrika mengenai umur panjang pemimpin dan mekanisme regenerasi politik yang demokratis.
Dengan jalan pikiran berbeda dari narasi resmi maupun klaim oposisi, situasi pasca-pengumuman ini menempatkan Kamerun pada persimpangan, pilihan antara stabilitas yang dipertahankan oleh rezim lama atau tekanan perubahan yang datang dari akar rumput. Dampaknya terhadap keamanan, ekonomi, dan hubungan luar negeri akan menjadi indikator utama yang dipantau dalam beberapa bulan mendatang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
