BANNER HEADER DISWAY HD

Musik Zaman Dulu vs Sekarang:Evolusi Nada, Lirik, dan Gaya Hidup

Musik Zaman Dulu vs Sekarang:Evolusi Nada, Lirik, dan Gaya Hidup

salah satu band yang mendunia, the beatles-foto: pinterest-

RADARTVNEWS.COM, Bandar Lampung, Musik, sebagai bagian penting dari budaya dan ekspresi manusia, terus mengalami perubahan seiring waktu. Dari era analog ke digital, dari kaset pita ke streaming, perubahan ini tidak hanya terjadi pada cara kita mendengarkan Musik, tetapi juga pada isi, gaya, hingga tujuan penciptaannya. Musik zaman dahulu dan Musik masa kini memiliki karakteristik yang berbeda, mencerminkan kondisi sosial, teknologi, dan budaya di masanya masing-masing.

 

1. Lirik: Dari Puitis ke Ekspresif Langsung

Musik era 70-an hingga awal 2000-an dikenal dengan lirik yang puitis dan penuh makna. Lagu-lagu karya musisi seperti Ebiet G. Ade, Chrisye, atau Koes Plus sering membawa pesan sosial, filosofi hidup, hingga romantisme yang mendalam. Di sisi lain, musik masa kini cenderung menggunakan bahasa yang lebih langsung, ekspresif, dan kadang eksplisit, mencerminkan generasi yang lebih terbuka dalam mengekspresikan perasaan dan keresahannya.

 

2. Aransemen Musik: Organik vs Digital

Musik dulu umumnya dibuat dengan alat musik akustik atau elektrik secara langsung. Sound-nya terdengar lebih "hangat" dan manusiawi, dengan proses rekaman yang penuh kesabaran dan ketelitian. Sebaliknya, musik sekarang banyak mengandalkan teknologi digital. Synthesizer, autotune, hingga software produksi musik telah merubah warna suara menjadi lebih modern, meski terkadang dianggap terlalu “instan” oleh sebagian penikmat musik klasik.

 

3. Distribusi dan Konsumsi

Zaman dulu, musik dinikmati lewat radio, kaset, CD, hingga konser langsung. Konsumen harus benar-benar mencari dan membeli rilisan fisik untuk menikmati musik idola mereka. Sekarang, cukup dengan ponsel dan koneksi internet, jutaan lagu bisa diakses kapan saja lewat platform streaming. Hal ini membuat penyebaran musik menjadi jauh lebih cepat dan masif, tapi juga menimbulkan tantangan baru seperti persaingan algoritma dan penurunan nilai apresiasi terhadap satu karya utuh (album).

 

4. Tujuan Bermusik: Idealisme vs Popularitas

Banyak musisi zaman dahulu menulis lagu sebagai bentuk idealisme dan bentuk ekspresi seni yang mendalam. Kini, meski masih ada yang idealis, industri musik juga sangat dipengaruhi oleh tren media sosial. Lagu yang viral di TikTok, misalnya, bisa langsung mendongkrak popularitas seorang artis. Ini membuat sebagian musisi kini lebih fokus pada strategi viral daripada kualitas musikal.

BACA JUGA:Symphonia Fest 2025 Siap Digelar, Sajikan Perpaduan Musik, Lomba Kreatif dan Nuansa Tropis

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: