Harga Damar Mata Kucing Pesisir Barat Kian Merosot, Ini Dampak yang Dirasakan Petani Krui
Ilustrasi-Foto : Rizky darmawan puad-
PESISIR BARAT, RADARTVNEWS.COM Harga Damar mata kucing di Pesisir barat terus mengalami penurunan sejak memasuki Tahun 2025. Dalam beberapa bulan terakhir, penurunan harga yang anjlok telah memicu kekhawatiran di kalangan petani di sejumlah kecamatan.
Keruntuhan Harga di Tingkat Petani
Pada Juli 2025, harga Damar mata kucing di tingkat petani sempat menyentuh titik terendah Rp 22.000-18.000 per kg, merosot dari kisaran Rp 30.000-35.000per kg.
Damar mata kucing, atau yang dikenal juga sebagai Shorea javanica, merupakan salah satu jenis getah damar yang banyak dimanfaatkan dalam industri vernis, cat, perekat, hingga bahan baku kosmetik. Lampung, dengan hutan damar alamnya, telah lama menjadi salah satu sentra produksi utama komoditas ini di Indonesia.
Penyebab Anjloknya Harga
Penurunan harga yang drastis ini diperkirakan disebabkan oleh beberapa faktor. Salah satunya adalah pasokan global yang melimpah. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, permintaan akan produk-produk berbasis damar mungkin mengalami stagnasi atau bahkan penurunan, sementara negara-negara penghasil lainnya tetap memproduksi dengan kapasitas tinggi.
Faktor lain yang turut berperan adalah persaingan dengan bahan baku sintetis. Industri kini semakin banyak beralih ke bahan-bahan sintetis yang lebih stabil dalam harga dan ketersediaan, mengurangi ketergantungan pada bahan alami seperti damar. Selain itu, fluktuasi nilai tukar mata uang juga dapat mempengaruhi daya saing damar mata kucing di pasar internasional, mengingat sebagian besar penjualan dilakukan melalui ekspor.
Dampak bagi Petani
Bagi petani damar di Lampung, anjloknya harga ini adalah pukulan telak. Banyak dari mereka yang hanya memiliki sedikit pilihan sumber pendapatan lain. Dengan harga jual yang terus menurun, margin keuntungan menjadi sangat tipis, bahkan tidak menutupi biaya operasional seperti upah pekerja pengumpul getah dan transportasi.
"Biasanya kami bisa menjual dengan harga lumayan, tapi sekarang harga jatuh sekali. Untuk makan sehari-hari saja susah," keluh Bapak Arman, seorang petani damar dari Pesisir Barat. "Anak-anak sekolah butuh biaya, kebutuhan dapur juga terus jalan. Kami bingung harus bagaimana."
Situasi ini tidak hanya mengancam kesejahteraan ekonomi petani, tetapi juga berpotensi menimbulkan dampak sosial. Jika pendapatan terus menurun, ada risiko peningkatan kemiskinan di desa-desa penghasil damar.
Pemerintah daerah dan pihak-pihak terkait diharapkan dapat segera mengambil langkah-langkah mitigasi untuk membantu petani. Beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan antara lain: Diversifikasi Produk: Mendorong petani untuk tidak hanya menjual getah mentah, tetapi juga mengolahnya menjadi produk turunan dengan nilai tambah lebih tinggi.Pencarian Pasar Baru:Membantu petani dalam mencari pasar ekspor baru atau pasar domestik yang belum tergarap optimal. Pemberian Modal dan Pelatihan: Memberikan bantuan modal atau pelatihan untuk pengembangan usaha lain yang dapat menjadi alternatif pendapatan bagi petani.Kebijakan Stabilisasi Harga: Jika memungkinkan, pemerintah dapat mempertimbangkan kebijakan untuk menstabilkan harga di tingkat petani, setidaknya untuk jangka pendek.
BACA JUGA:Didampingi Orang Tua Dan Rekan Korban Datangi Damar
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
