Alasan Anak Sulit Lepas Gaway, Scroll Berjam-jam Saat Istirahat
Kebiasaan scrolling TikTok di kalangan Generasi Z tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga dapat memengaruhi fokus belajar. -Pngtree-
RADARTVNEWS.COM – Niat awalnya hanya ingin melihat beberapa video sebelum tidur atau beristirahat. Namun, satu video berubah menjadi video berikutnya hingga waktu berlalu tanpa terasa. Kebiasaan scrolling seperti ini menjadi bagian dari keseharian Generasi Z yang tumbuh bersama perkembangan media digital.
TikTok menjadi salah satu platform yang menawarkan video pendek dengan beragam jenis konten. Mulai dari hiburan, tren, informasi, hingga materi pembelajaran dapat ditemukan dalam satu aplikasi. Kemudahan tersebut membuat pengguna dapat berpindah dari satu konten ke konten lainnya hanya dengan menggulir layar.
Di balik kemudahan itu, penggunaan TikTok yang tidak terkontrol ternyata dapat menjadi persoalan tersendiri bagi mahasiswa. Penelitian Tiara Khaerun Nisa dan Ellen Prima dalam Psikosospen: Jurnal Psikososial dan Pendidikan Volume 2 Nomor 2 Juni 2026 membahas pengaruh TikTok terhadap prestasi belajar mahasiswa Generasi Z.
Penelitian tersebut menggunakan metode tinjauan pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Peneliti mengumpulkan dan membandingkan berbagai penelitian sebelumnya mengenai TikTok, Generasi Z, kecanduan media sosial, penundaan akademik, serta prestasi belajar.
Hasil kajian menunjukkan adanya dua sisi yang bertolak belakang dari penggunaan TikTok. Intensitas penggunaan dan tingkat kecanduan yang tinggi dikaitkan dengan dampak negatif terhadap hasil belajar. Penggunaan yang berlebihan dapat membuat waktu belajar berkurang, mengganggu pola belajar yang teratur, serta mendorong mahasiswa menunda pengerjaan tugas.
Kebiasaan menggulir konten tanpa henti juga dapat membuat pengguna kehilangan kesadaran terhadap waktu. Dalam kondisi tertentu, mahasiswa dapat lebih memilih kesenangan sesaat dari konten hiburan dibandingkan menyelesaikan tugas yang membutuhkan konsentrasi dan usaha lebih besar.
Fenomena tersebut berkaitan dengan istilah present bias, yaitu kecenderungan seseorang memilih mendapatkan kesenangan atau penghargaan dalam waktu dekat dibandingkan manfaat yang baru diperoleh di masa mendatang. Dalam penelitian tersebut, kondisi ini dapat membuat mahasiswa lebih memilih menikmati video pendek daripada mengerjakan tugas kuliah.
Namun, TikTok tidak sepenuhnya memberikan dampak negatif. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa platform ini dapat memberikan manfaat ketika digunakan secara selektif. Konten pendidikan dan pengembangan diri dapat membantu meningkatkan motivasi belajar, sementara konten yang kreatif secara visual dapat menjadi sumber inspirasi bagi mahasiswa.
Karena itu, persoalannya bukan hanya terletak pada keberadaan TikTok, tetapi bagaimana seseorang menggunakannya. Mahasiswa dengan kemampuan regulasi diri dan literasi digital yang baik dinilai lebih mampu menyaring konten, mengatur waktu, serta memanfaatkan video pendek sebagai tambahan dalam proses belajar.
Penggunaan TikTok yang berlebihan justru dapat membuat batas antara hiburan dan kewajiban semakin kabur. Ketika waktu scrolling tidak lagi memiliki batas, tugas dapat tertunda dan waktu belajar menjadi semakin sedikit.
Di sisi lain, apabila digunakan secara bijak, TikTok dapat menjadi ruang untuk mendapatkan informasi sekaligus mengembangkan kreativitas. Video pendek dengan tampilan visual yang menarik bahkan dapat memberikan inspirasi untuk mengembangkan ide dalam kegiatan perkuliahan.
Pada akhirnya, kebiasaan “sebentar saja” saat membuka TikTok bisa menjadi persoalan ketika pengguna kehilangan kendali terhadap waktunya sendiri. Bagi mahasiswa Generasi Z, kemampuan mengatur diri menjadi penting agar hiburan digital tidak mengambil alih waktu belajar.
TikTok dapat menjadi tempat mencari hiburan, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan. Pilihannya kembali kepada pengguna: terus menggulir tanpa batas atau mulai menentukan kapan harus berhenti.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber: "pengaruh tiktok terhadap prestasi belajar mahasiswa generasi z” psikosospen: jurnal psikososial dan pendidikan