Di Balik Nikmatnya Kol Goreng, Ada Risiko bagi Kesehatan

Di Balik Nikmatnya Kol Goreng, Ada Risiko bagi Kesehatan

Kol goreng memiliki sejumlah risiko kesehatan jika dikonsumsi secara berlebihan. Berikut fakta medis yang perlu diketahui.--

Penggunaan minyak goreng berulang atau pemanasan minyak pada suhu tinggi dapat meningkatkan kandungan lemak jenuh dan lemak trans dalam kol. Kedua jenis lemak ini diketahui meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah.

2. Akrilamida

Akrilamida merupakan senyawa kimia yang dapat terbentuk saat makanan tertentu dimasak pada suhu tinggi. Senyawa ini telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker berdasarkan penelitian pada hewan.

Risiko Kesehatan akibat Konsumsi Kol Goreng Berlebihan

Mengonsumsi kol goreng secara berlebihan, terutama jika menjadi kebiasaan sehari-hari, dapat meningkatkan risiko berbagai gangguan kesehatan. 

Hal ini berkaitan dengan tambahan kalori dan lemak dari minyak yang digunakan selama proses penggorengan.

Dilansir dari Halodoc, berikut beberapa risiko kesehatan yang perlu diperhatikan akibat konsumsi kol goreng secara berlebihan.

1. Obesitas

Kol yang digoreng dapat menyerap minyak sehingga kandungan kalori dan lemaknya meningkat. Jika dikonsumsi secara berlebihan tanpa diimbangi aktivitas fisik, asupan kalori yang berlebih dapat menyebabkan kenaikan berat badan hingga obesitas.

2. Kolesterol Tinggi

Penggunaan minyak goreng secara berulang dapat memengaruhi kualitas minyak dan meningkatkan risiko terbentuknya senyawa hasil degradasi. Konsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh dan lemak trans juga dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat (LDL) dalam darah.

3. Penyakit Jantung dan Stroke

Kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat menyebabkan penumpukan plak pada dinding pembuluh darah. Jika kondisi ini menghambat aliran darah, risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke, dapat meningkat.

4. Diabetes Tipe 2

Konsumsi makanan tinggi kalori dan lemak secara berlebihan dapat berkontribusi terhadap kenaikan berat badan dan obesitas. Kedua kondisi tersebut berkaitan dengan peningkatan risiko resistensi insulin, yang merupakan salah satu faktor risiko diabetes tipe 2.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: halodoc.com