Gas Lebih Hemat, tetapi Apakah Semua Dapur MBG di Lampung Bisa Menikmatinya?

Kamis 29-10-2026,23:44 WIB
Reporter : MG - Kathina Octavia
Editor : Jefri Ardi

Area Head PGN Lampung, Ahmad Abrar, menyampaikan bahwa jaringan gas PGN mendukung operasional dapur MBG melalui pasokan energi yang stabil dan biaya yang dinilai lebih hemat.

Dalam laporan ANTARA, Abrar mengatakan jaringan gas tidak hanya menyediakan energi, tetapi juga membantu kelancaran program sosial yang menjangkau anak-anak, ibu hamil, dan balita.

Selain efisiensi biaya, penggunaan jaringan gas juga dinilai memudahkan pengelola karena tidak perlu terus-menerus mengganti tabung LPG. Bagi dapur dengan aktivitas memasak sejak tengah malam, kemudahan tersebut dapat membantu mengurangi pekerjaan tambahan dalam pengelolaan bahan bakar.

Meski demikian, manfaat itu perlu dilihat bersama kesiapan infrastruktur dan kebutuhan masing-masing dapur. Ketersediaan jaringan, proses pemasangan, serta kesesuaian layanan dengan kebutuhan operasional menjadi faktor yang perlu diperhitungkan sebelum pengelola memutuskan beralih dari LPG.

Perluasan jaringan juga membutuhkan informasi yang jelas mengenai wilayah layanan dan rencana pengembangan agar calon pengguna dapat menilai apakah pilihan tersebut realistis untuk diterapkan di dapurnya.

BACA JUGA:Ekspor Gas ke Singapura Dipangkas, Apakah Industri dan Masyarakat Bisa Menikmati Energi Lebih Murah?

Pemerataan Perlu Diukur, Bukan Hanya dari Klaim Efisiensi

Program MBG membutuhkan dukungan operasional yang dapat menjaga produksi makanan tetap berjalan sesuai kebutuhan penerima manfaat. Energi menjadi salah satu komponen penting, tetapi penghematan bahan bakar bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pengelolaan dapur.

Manfaat penggunaan gas bumi akan lebih mudah dinilai jika tersedia data pembanding yang mencakup jumlah dapur pengguna, biaya sebelum dan sesudah beralih, biaya pemasangan, serta jangkauan layanan di berbagai kabupaten dan kota.

PGN perlu memberikan penjelasan terukur mengenai jumlah SPPG yang telah terhubung di Lampung, target perluasan, dan kendala yang dihadapi dalam menjangkau dapur lainnya. Informasi tersebut dapat membantu pengelola SPPG menentukan pilihan energi berdasarkan kebutuhan dan kemampuan operasional masing-masing.

Di sisi lain, pemerintah dan Badan Gizi Nasional (BGN) juga dapat memperjelas kebutuhan energi dapur MBG serta mekanisme evaluasi efisiensi operasional, sehingga kebijakan pendukung program tidak hanya bertumpu pada pengalaman sejumlah lokasi.

Dengan demikian, pertanyaan pentingnya bukan hanya seberapa besar biaya yang dapat dihemat oleh dapur yang telah menggunakan jaringan gas, melainkan juga seberapa luas manfaat tersebut bisa diakses.

Sebab, efisiensi yang dirasakan sebagian pengelola baru menjadi gambaran awal. Pemerataan manfaatnya perlu dibuktikan melalui data jangkauan, keterjangkauan biaya, dan rencana perluasan yang dapat diukur.

BACA JUGA:Suahasil Siapkan Pertemuan Khusus dengan Pemprov DKI, Bahas Rencana Obligasi Jakarta

Kategori :