Erupsi tersebut menyebabkan terbentuknya sejumlah fumarol dan rekahan baru di kawasan Kawah Mas, Kawah Baru, serta Nangklak.
Menurut Sonni Setiawan, terbentuknya rekahan baru membuat gas vulkanik yang sebelumnya tersebar menjadi lebih terkonsentrasi di celah-celah tertentu.
Saat gas tersebut keluar dan bercampur dengan udara, proses pembakaran dapat menghasilkan nyala api berwarna biru.
Sementara itu, berdasarkan catatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), aktivitas vulkanik Gunung Papandayan belakangan mengalami peningkatan.
Kondisi tersebut ditandai dengan bertambahnya aliran gas sulfur dioksida (SO₂) serta meningkatnya aktivitas gempa vulkanik dangkal.
Peningkatan aktivitas vulkanik Gunung Papandayan juga ditandai dengan naiknya suhu fumarol.
Suhu yang sebelumnya berada di kisaran 150 derajat Celsius kini meningkat hingga mencapai 300-400 derajat Celsius.
Sonni Setiawan menjelaskan, suhu tersebut memungkinkan gas hidrogen sulfida (H2S) terbakar secara spontan tanpa memerlukan sumber api dari luar.
"Pada suhu tersebut, gas H2S dapat terbakar secara spontan tanpa perlu disulut, sehingga kemunculan api menjadi lebih sering terlihat," jelas Sonni.
Di tengah kemunculan fenomena blue fire, masyarakat diimbau tidak mendekati lokasi fumarol aktif.
Gas vulkanik seperti sulfur dioksida (SO2) dapat membahayakan pernapasan.
Selain itu, kondisi tanah di sekitar fumarol berisiko rapuh akibat paparan suhu tinggi.
"Jika melakukan pengamatan pada malam hari, keselamatan harus menjadi prioritas. Masker kain biasa tidak cukup untuk menghadapi paparan gas vulkanik. Jangan mendekati lubang fumarol karena selain gasnya beracun, struktur tanah di sekitarnya juga dapat rapuh," pungkasnya.