Kenapa Anak Muda Lebih Pilih Beli Pengalaman daripada Barang?

Selasa 15-09-2026,13:27 WIB
Reporter : MG - Ramadhani
Editor : Jefri Ardi

Seseorang bisa saja awalnya tidak memiliki rencana pergi ke suatu tempat. Namun setelah melihat video teman yang sedang berada di sana, konten TikTok tentang tempat makan baru, atau unggahan konser yang akan datang, keinginan tersebut muncul.

Dari sekadar melihat layar, akhirnya muncul keputusan untuk menyisihkan uang. Ada pula alasan yang lebih sederhana: pengalaman terasa lebih sulit digantikan.

Sebuah kaus bisa rusak. Ponsel akan mengalami penurunan harga. Sepatu yang dulu menjadi barang impian suatu hari mungkin tidak lagi menjadi tren. Sementara pengalaman seperti perjalanan bersama teman, menonton konser pertama, mencoba makanan asing, atau pergi sendirian ke tempat baru tidak memiliki versi yang benar-benar sama. Karena itu, sebagian anak muda mulai melihat pengeluaran untuk pengalaman sebagai bentuk investasi emosional.

Istilahnya mungkin terdengar berlebihan untuk sekadar pergi nongkrong atau liburan. Namun, pengalaman memang dapat memberikan sesuatu yang tidak selalu bisa diberikan barang, yaitu cerita. Misalnya, seseorang mungkin tidak mengingat berapa kali membeli kopi dalam satu bulan. Tetapi ia bisa sangat mengingat malam ketika dirinya dan teman-temannya berbicara berjam-jam di sebuah kedai setelah lama tidak bertemu.

BACA JUGA:GWM Wey G9 Meluncur di RI, MPV Premium Penantang Toyota Alphard dan Denza D9

Begitu juga dengan perjalanan singkat. Tidak semua perjalanan harus mahal atau dilakukan ke luar negeri. Pergi ke kota sebelah, mencoba tempat makan baru, mengunjungi pantai, atau sekadar mencari suasana berbeda pada akhir pekan bisa memberikan sensasi “keluar sebentar” dari rutinitas. Menariknya, tren tersebut bukan berarti anak muda bebas menghabiskan uang tanpa perhitungan.

Di tengah harga kebutuhan yang terus menjadi perhatian, pengalaman juga harus disesuaikan dengan kemampuan finansial. Bahkan, tren yang muncul di kalangan Gen Z secara global menunjukkan adanya upaya untuk tetap menikmati pengalaman sambil mengatur keuangan. Sebuah laporan yang dikutip The Guardian pada 2025 menggambarkan fenomena “soft saving”, yaitu kecenderungan anak muda menyisihkan uang untuk pengalaman seperti perjalanan tanpa sepenuhnya mengabaikan kebutuhan masa depan. Dengan kata lain, pergi liburan tidak selalu berarti seseorang tidak peduli dengan tabungan.

Ada yang justru membuat pos khusus untuk traveling. Ada yang menunggu tiket murah. Ada yang memilih perjalanan singkat dibanding liburan panjang. Ada juga yang rela mengurangi pembelian barang tertentu agar bisa menggunakan uang tersebut untuk kegiatan yang sudah direncanakan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan tentang memilih barang atau pengalaman secara mutlak. Keduanya tetap memiliki tempat masing-masing. Ada barang yang memang dibutuhkan dan memberikan manfaat dalam waktu panjang. Namun, ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, sebagian orang mulai mempertimbangkan hal lain yang bisa membuat hidup terasa lebih menyenangkan.

BACA JUGA:Kenapa Resleting Bisa Tiba-Tiba Macet? Ternyata Ada Penyebabnya

Bagi anak muda yang setiap hari berhadapan dengan kuliah, pekerjaan, tugas, target, notifikasi, dan rutinitas yang berulang, pengalaman sederhana terkadang menjadi bentuk jeda.

Pergi ke konser bisa menjadi cara untuk melepas penat. Traveling bisa menjadi kesempatan untuk melihat sesuatu di luar rutinitas. Makan bersama teman bisa menjadi ruang untuk bercerita. Bahkan mencoba hobi baru bisa menjadi cara untuk mengenal diri sendiri. Di sinilah pengalaman memiliki nilai yang tidak selalu bisa dihitung dengan nominal. Barang mungkin bisa dipajang di kamar. Tetapi pengalaman bisa menjadi cerita yang terus dibawa.

Mungkin itu sebabnya ketika ditanya apa yang ingin dilakukan setelah menerima gaji, uang bulanan, atau tabungan yang sudah cukup, sebagian anak muda tidak lagi hanya membayangkan barang apa yang ingin dibeli. Mereka mulai memikirkan tempat mana yang ingin didatangi, siapa yang ingin diajak, makanan apa yang ingin dicoba, konser apa yang ingin ditonton, atau pengalaman apa yang belum pernah mereka rasakan. Sebab pada akhirnya, tidak semua hal yang dianggap berharga harus berbentuk benda.

Kategori :