Kenapa Anak Muda Lebih Pilih Beli Pengalaman daripada Barang?

Kenapa Anak Muda Lebih Pilih Beli Pengalaman daripada Barang?

konser anak muda-Ramadhani-Foto Pribadi

 

Dulu, punya barang baru sering dianggap sebagai bentuk pencapaian. Ponsel terbaru, sepatu yang sedang tren, pakaian bermerek, sampai kendaraan baru bisa menjadi sesuatu yang membuat seseorang merasa puas. Sekarang, bagi sebagian anak muda, ukuran “worth it” mulai berubah.

Uang yang sama bisa saja digunakan untuk membeli barang yang bertahan bertahun-tahun. Namun, tidak sedikit anak muda justru memilih menghabiskannya untuk makan di tempat baru, menonton konser, pergi ke luar kota, mencoba kelas atau hobi baru, hingga sekadar nongkrong bersama teman.

Barang memang bisa dibawa pulang. Tetapi pengalaman punya cerita yang bisa dibicarakan kembali.

Perubahan kecil dalam cara melihat uang tersebut menjadi salah satu hal yang menarik dari perilaku konsumsi generasi muda saat ini. Bagi mereka, mengeluarkan uang tidak selalu soal mendapatkan sesuatu yang bisa dimiliki secara fisik. Ada kalanya yang dicari justru perasaan, kenangan, hubungan dengan orang lain, atau kesempatan untuk mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan.

Fenomena ini semakin mudah terlihat di media sosial. Hampir setiap hari ada unggahan tentang konser, perjalanan singkat, festival makanan, coffee shop baru, pameran seni, atau tempat wisata yang sedang ramai. Pengalaman kemudian bukan hanya menjadi sesuatu yang dijalani, tetapi juga sesuatu yang bisa dibagikan.

BACA JUGA:Aktris Sydney Sweeney Dikritik Keras, Iklannya Dinilai Merendahkan Atlet Perempuan

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan Generasi Z menjadi kelompok generasi terbesar di Indonesia. Berdasarkan SUPAS 2025, Gen Z yang lahir pada 1997 - 2012 mencakup 24,93 persen dari populasi Indonesia. Jika digabungkan dengan generasi milenial, keduanya mencapai 49,27 persen dari jumlah penduduk. Artinya, hampir separuh penduduk Indonesia saat ini berasal dari dua generasi yang tumbuh dalam lingkungan digital dan sangat dekat dengan perubahan gaya hidup.

Besarnya jumlah tersebut membuat perubahan kebiasaan konsumsi anak muda cukup terasa. Salah satunya adalah cara mereka menentukan apa yang dianggap layak dibeli. Dalam laporan tentang perilaku Gen Z di Indonesia, tiga kategori pengeluaran terbesar yang tercatat adalah beauty and personal care sebesar 21 persen, clothing 20 persen, dan dining out 14 persen. Data tersebut menunjukkan bahwa pengeluaran anak muda tidak hanya berputar pada barang yang dibawa pulang, tetapi juga pada aktivitas yang memberikan pengalaman langsung.

Makan di restoran, misalnya, sebenarnya bukan sekadar membeli makanan. Ada suasana tempat, kesempatan bertemu teman, mencoba menu baru, mengambil foto, sampai cerita yang muncul setelahnya. Hal yang sama juga terjadi ketika seseorang membeli tiket konser.

Setelah konser selesai, tiketnya mungkin hanya tersisa sebagai kertas atau bukti digital di ponsel. Tetapi pengalaman berada di tengah ribuan orang, menyanyikan lagu favorit bersama, atau melihat musisi yang selama ini hanya ditonton melalui layar bisa menjadi kenangan yang bertahan jauh lebih lama. Di titik ini, pengalaman mulai dianggap memiliki nilai yang berbeda dari barang.

Bukan berarti anak muda sudah tidak tertarik membeli barang. Justru barang masih menjadi bagian penting dari gaya hidup mereka. Hanya saja, keputusan membeli semakin sering dipengaruhi oleh pertanyaan lain: “Aku bakal dapat pengalaman apa dari ini?”

BACA JUGA:Sebelum di Berhentikan, Ternyata Purbaya Punya Niat Kejam Ke Perusahaan Asing

Media sosial ikut memperkuat perubahan tersebut.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: