Kemarau 2026 Diprediksi Lebih Panjang dan Kering, Ini Kata BMKG

Senin 24-08-2026,20:56 WIB
Reporter : MG - Rahma Chaliva Chairunisa
Editor : Jefri Ardi

Sebanyak 369 ZOM atau 48,84 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami puncak musim kemarau pada Agustus 2026. 

Adapun pada September, puncak kemarau diperkirakan terjadi di 169 ZOM yang mencakup sekitar 25,41 persen luas daratan Indonesia.

Prediksi tersebut menunjukkan bahwa periode Juli, Agustus, dan September menjadi waktu ketika kondisi kemarau diperkirakan paling terasa di sebagian besar wilayah Indonesia.

"Pada bulan Agustus 2026, puncak musim kemarau terjadi di Sumatera bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku, Maluku Utara bagian Selatan, dan sebagian besar Pulau Papua," kata Budi.

Menghadapi musim kemarau 2026 yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dari kondisi normal, BMKG mengimbau pemerintah serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan di berbagai sektor.

Dalam sektor pertanian dan pangan, masyarakat diimbau menyesuaikan waktu tanam dengan kondisi cuaca serta memilih jenis tanaman yang lebih mampu bertahan dalam kondisi minim air. 

Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan air tetap terjaga, termasuk mempertahankan kapasitas bendungan untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan memperbaiki sistem distribusi air.

Selain itu, masyarakat perlu mewaspadai berbagai dampak yang dapat muncul akibat kondisi kering, seperti menurunnya kualitas udara, kekeringan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Di sisi lain, musim kemarau juga dapat memberikan peluang bagi sektor perikanan dan produksi garam. 

Kondisi cuaca yang lebih kering dapat dimanfaatkan untuk mendukung peningkatan hasil tangkapan ikan maupun produksi garam.

BMKG berharap informasi mengenai prediksi musim kemarau tersebut tidak hanya menjadi informasi bagi masyarakat, tetapi juga dapat digunakan sebagai peringatan dini (early warning) sekaligus dasar untuk melakukan aksi dini (early action) dalam menghadapi berbagai potensi dampak musim kemarau.

Kategori :