Bukan Sekadar Suhu, Ini yang Membuat Panas di Negara Tropis Terasa Berbeda

Bukan Sekadar Suhu, Ini yang Membuat Panas di Negara Tropis Terasa Berbeda

--

RADARTVNEWS.COM – Memasuki bulan Agustus, sejumlah negara yang berada di belahan bumi utara masih berada dalam periode musim panas. Berbeda dengan Indonesia yang hanya mengenal musim hujan dan kemarau, negara dengan empat musim memiliki periode tertentu ketika suhu meningkat dan hari-hari terasa lebih panjang.

Datangnya musim panas bahkan kerap menjadi momen yang dinantikan masyarakat di negara empat musim. Setelah melewati musim dingin yang panjang dan minim paparan sinar matahari, banyak orang memanfaatkan musim panas untuk beraktivitas di luar ruangan, termasuk duduk di taman hingga berjemur menikmati hangatnya matahari.

Kebiasaan tersebut mungkin terasa cukup berbeda bagi masyarakat di negara tropis seperti Indonesia. Berjemur bukan menjadi aktivitas yang selalu dinantikan karena paparan sinar matahari dapat ditemui hampir sepanjang tahun. Ketika cuaca terasa terik, sebagian orang justru memilih berteduh, menyalakan kipas atau pendingin ruangan, dan menghindari paparan matahari langsung.

BACA JUGA:Biar Gak Gerah! Ini 5 Jenis Bahan Pakaian Paling Nyaman Dipakai Saat Musim Panas

Perbedaan kebiasaan ini bukan semata-mata karena masyarakat tropis lebih tidak menyukai panas. Kondisi geografis dan karakteristik iklim membuat pengalaman menghadapi cuaca panas di kedua wilayah memang berbeda.

Negara tropis berada di sekitar garis khatulistiwa dan menerima paparan sinar matahari sepanjang tahun dengan perubahan musim yang tidak seekstrem negara empat musim. Indonesia, misalnya, lebih banyak mengalami pola musim hujan dan kemarau dengan suhu yang relatif hangat sepanjang tahun.

Sementara itu, negara empat musim mengalami perubahan kondisi yang lebih jelas sepanjang tahun. 

Musim panas datang setelah musim semi dan biasanya ditandai dengan peningkatan suhu serta durasi siang yang lebih panjang. Karena berlangsung secara musiman, periode hangat tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk menikmati aktivitas di luar ruangan sebelum kembali menghadapi musim gugur dan musim dingin.

Namun, angka suhu pada termometer bukan satu-satunya hal yang menentukan seberapa panas suatu tempat terasa. Kelembapan udara juga memiliki pengaruh besar terhadap sensasi panas yang dirasakan tubuh.

Di wilayah tropis yang cenderung lembap, keringat lebih sulit menguap dari permukaan kulit. Padahal, penguapan keringat merupakan salah satu cara tubuh melepaskan panas. Akibatnya, udara dengan suhu tertentu dapat terasa lebih gerah dan membuat tubuh lebih cepat tidak nyaman.

BACA JUGA:Gelombang Panas Eropa Berdampak pada Lebih dari 1.300 Warga, Ini Penyebabnya

Sebaliknya, beberapa wilayah dengan iklim lebih kering dapat mengalami suhu tinggi tetapi memiliki kelembapan yang lebih rendah. 

Dalam kondisi tertentu, keringat dapat lebih mudah menguap sehingga sensasi panasnya berbeda. Meski begitu, suhu ekstrem dan gelombang panas tetap dapat membuat kondisi menjadi berbahaya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa suhu yang sama belum tentu memberikan pengalaman yang sama. Suhu 30 derajat Celsius di Indonesia tidak otomatis terasa persis seperti 30 derajat Celsius di negara lain karena masih dipengaruhi kelembapan, angin, paparan sinar matahari, hingga kondisi lingkungan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: bmkg