Benarkah Thrifting Bisa Jadi Solusi Anak Muda Melawan Dampak Fast Fashion?

Rabu 29-07-2026,19:37 WIB
Reporter : Kathina Octavia
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM – Deretan pakaian dengan berbagai model memenuhi rak-rak toko pakaian bekas. Jaket denim, kemeja vintage, hingga pakaian bermerek yang masih terlihat layak pakai menjadi incaran anak muda yang datang berburu barang thrift. Bagi sebagian konsumen, membeli pakaian bekas bukan hanya soal mendapatkan harga lebih terjangkau, tetapi juga menjadi pilihan untuk memperpanjang usia pakaian di tengah maraknya industri fesyen cepat (fast fashion).

 

Fenomena thrifting atau aktivitas membeli pakaian bekas layak pakai kini berkembang sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan (sustainable lifestyle). Kebiasaan ini muncul seiring meningkatnya perhatian masyarakat terhadap dampak industri fast fashion yang menghadirkan tren pakaian baru dalam waktu singkat dengan siklus penggunaan yang semakin pendek.

 

Industri fast fashion selama ini menjadi sorotan karena memproduksi pakaian dalam jumlah besar dengan perubahan tren yang cepat. Laporan United Nations Environment Programme (UNEP) menyebut sektor tekstil menghadapi tantangan lingkungan akibat tingginya konsumsi sumber daya, penggunaan bahan kimia, serta peningkatan limbah pakaian. Sementara United Nations Economic Commission for Europe (UNECE) mencatat sekitar 92 juta ton limbah tekstil dihasilkan setiap tahun secara global.

 

Besarnya jumlah limbah tersebut tidak terlepas dari perubahan pola konsumsi masyarakat yang semakin sering membeli pakaian baru mengikuti tren. Tidak sedikit pakaian yang hanya digunakan dalam waktu singkat sebelum akhirnya tersimpan atau tidak lagi dimanfaatkan.

 

Di tengah kondisi tersebut, thrifting hadir sebagai salah satu pilihan untuk memperpanjang masa penggunaan pakaian. Barang yang sebelumnya tidak lagi digunakan oleh seseorang dapat kembali memiliki nilai ketika berpindah ke pemilik baru.

 

Pegiat thrifting Irin Mau, yang berbagi pengalaman mengenai kebiasaan menggunakan pakaian bekas sebagai bagian dari gaya hidup berkelanjutan, menilai perubahan pola konsumsi dapat dimulai dari langkah sederhana.

 

“Kalau sendiri mungkin kecil, tapi kalau banyak orang ikut, dampaknya besar,” ujar Irin Mau dalam wawancara yang dikutip RRI terkait tren thrifting dan upaya mengurangi limbah fesyen.

 

Menurut Irin, thrifting tidak hanya memberikan kesempatan bagi pakaian lama untuk kembali digunakan, tetapi juga mendorong masyarakat lebih mempertimbangkan kebutuhan sebelum membeli pakaian baru.

Kategori :