RADARTVNEWS.COM - Indonesia terus mempercepat pengembangan jaringan 5G sebagai bagian dari transformasi digital nasional.
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama operator telekomunikasi juga tengah menyiapkan tambahan spektrum frekuensi untuk memperluas jangkauan layanan dalam beberapa tahun ke depan.
Namun, perkembangan 5G masih tertinggal dibanding jaringan 4G. Data Komdigi menunjukkan cakupan layanan 4G telah menjangkau sekitar 97 persen wilayah permukiman, sedangkan jaringan 5G baru mencakup sekitar 4,44 persen.
Kesenjangan tersebut menjadi tantangan besar di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap internet berkecepatan tinggi.
Banyak pengguna pun mulai bertanya, mengapa pengembangan 5G di Indonesia belum bisa melaju secepat jaringan 4G?
Apakah kendalanya hanya soal pembangunan menara telekomunikasi, atau ada faktor lain yang membuat pemerataan layanan membutuhkan waktu lebih lama?
Infrastruktur Belum Siap Menjangkau Seluruh Wilayah
Pengembangan 5G tidak sekadar mengganti jaringan yang sudah ada. Teknologi ini membutuhkan ekosistem baru, mulai dari penambahan BTS, perluasan jaringan serat optik, hingga penyediaan spektrum frekuensi yang memadai agar kecepatan dan kapasitas jaringan dapat bekerja optimal.
Berbeda dengan jaringan 4G yang telah dibangun selama bertahun-tahun, pembangunan infrastruktur 5G masih berlangsung secara bertahap.
Karena itu, operator memilih memprioritaskan wilayah dengan kebutuhan data tinggi, seperti pusat bisnis, kawasan industri, bandara, dan kota-kota besar.
BACA JUGA:Jaringan Cerdas Perkuat Kolaborasi Terminal, Layanan, dan Pertumbuhan Bisnis
Spektrum Frekuensi Masih Menjadi Kunci
Selain pembangunan infrastruktur, ketersediaan spektrum frekuensi menjadi tantangan lain. Tanpa tambahan spektrum, operator akan kesulitan meningkatkan kapasitas jaringan meski telah membangun lebih banyak BTS.
untuk mengatasi hal tersebut, Komdigi mulai melelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz pada 2026.