Paket Datang Tanpa Pesanan, Mengapa Modus Ini Masih Memakan Korban?

Senin 22-06-2026,16:00 WIB
Reporter : MG Ardhia Nareen Cahya Sandrin
Editor : Jefri Ardi

RADARTVNEWS.COM - Paket itu datang seperti kiriman biasa. Nama penerima sesuai, alamat rumah benar, dan kurir meminta pembayaran melalui sistem cash on delivery (COD). 

Tidak ada yang tampak mencurigakan hingga paket diterima dan dibuka. Masalahnya, tidak seorang pun di rumah pernah memesan barang tersebut.

Fenomena paket fiktif masih menjadi salah satu modus penipuan yang meresahkan masyarakat. 

Di tengah meningkatnya aktivitas belanja online, menerima paket di rumah sudah menjadi hal yang lumrah. Kondisi inilah yang dimanfaatkan pelaku untuk membuat pengiriman palsu terlihat seperti transaksi yang sah.

Berbeda dengan modus penipuan yang mengandalkan tautan mencurigakan atau pesan berisi hadiah, paket fiktif hadir dalam bentuk yang lebih meyakinkan. Paket dikirim langsung ke alamat korban dengan identitas penerima yang sesuai. 

Akibatnya, banyak orang tidak langsung menaruh curiga ketika kurir datang mengantarkan barang.

BACA JUGA:WASPADA! Marak Penipuan Mengatasnamakan Bank dan Kurir, Masyarakat Diminta Waspada Tautan Palsu

Tidak sedikit penerima yang mengira paket tersebut dipesan oleh anggota keluarga lain. Ada pula yang merasa mungkin pernah melakukan transaksi tetapi lupa karena terlalu sering berbelanja secara daring. 

Dalam situasi seperti ini, keputusan untuk membayar sering kali diambil tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut.

Pelaku juga kerap memanfaatkan nominal pembayaran yang relatif kecil. Dibanding harus berdebat atau memeriksa ulang pesanan, sebagian orang memilih membayar karena menganggap jumlah kerugiannya tidak terlalu besar. 

Namun setelah paket dibuka, isi barang sering kali tidak sesuai dengan nilai yang dibayarkan, bahkan ada yang hanya berisi produk murah yang tidak dibutuhkan.

Selain kerugian finansial, kasus paket fiktif juga memunculkan kekhawatiran terkait keamanan data pribadi. Nama, alamat, dan nomor telepon yang tercantum pada paket biasanya sesuai dengan identitas penerima. 

Hal ini membuat banyak korban bertanya-tanya bagaimana informasi tersebut bisa diketahui oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Tidak semua kasus dapat diketahui secara pasti dari mana pelaku memperoleh data korbannya. Namun, informasi pribadi seperti nama, alamat, dan nomor telepon dapat tersebar melalui berbagai cara, mulai dari aktivitas daring sehari-hari hingga kebocoran data pada layanan digital. 

Ketika data tersebut jatuh ke tangan yang salah, informasi itu dapat dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai modus penipuan.

Kategori :