Dolar Naik, Tapi Harga Sawit Malah Turun. Kok Bisa?

Jumat 22-05-2026,13:30 WIB
Reporter : MG - Nasywa Nayla Afany
Editor : Reki. M

RADARTVNEWS.COM – Saat nilai dolar Amerika terus menguat, banyak orang biasanya mengira komoditas ekspor seperti sawit bakal ikut naik dan menguntungkan. Tapi kenyataannya, kondisi di lapangan justru nggak selalu sesimpel itu.

Belakangan ini, harga sawit justru mengalami penurunan meski dolar sedang tinggi. Situasi ini bikin banyak petani sawit mulai bingung sekaligus waswas, apalagi sawit jadi salah satu sumber penghasilan utama di banyak daerah Indonesia.

Buat masyarakat awam, kondisi ini memang terdengar aneh.  “Kalau dolar naik bukannya harusnya ekspor untung?”

Secara teori memang begitu. Karena transaksi ekspor biasanya menggunakan dolar, nilai tukar yang tinggi seharusnya bisa memberi keuntungan lebih besar. Tapi harga sawit ternyata nggak cuma dipengaruhi kurs dolar saja.

Ada banyak faktor lain yang ikut bermain. 

Salah satu penyebab utama turunnya harga sawit adalah kondisi pasar global. Permintaan dari beberapa negara disebut sedang melambat, sementara stok sawit di pasar internasional cukup tinggi. Kalau stok melimpah tapi permintaan turun, harga biasanya ikut melemah.

Selain itu, harga minyak nabati lain seperti minyak kedelai dan minyak bunga matahari juga ikut memengaruhi harga sawit dunia. Karena produk-produk ini saling bersaing di pasar internasional, perubahan harga salah satunya bisa berdampak ke yang lain. Makanya, walaupun dolar naik, harga sawit belum tentu otomatis ikut naik.

Di sisi lain, kondisi ini cukup terasa buat petani. Banyak yang berharap harga sawit bisa membaik karena biaya kebutuhan sehari-hari terus naik. Mulai dari pupuk, biaya operasional, sampai kebutuhan rumah tangga sekarang makin berat. Jadi saat harga sawit turun, penghasilan petani otomatis ikut terdampak.

BACA JUGA: Prabowo Wajibkan Ekspor SDA Lewat BUMN untuk Perkuat Pengawasan dan Penerimaan Negara

Hal seperti ini yang kadang jarang terlihat dari pembahasan ekonomi di media sosial.

Banyak orang melihat penguatan dolar sebagai tanda ekonomi tertentu sedang bagus. Padahal buat sebagian masyarakat, terutama yang bergantung pada sektor tertentu, situasinya bisa berbeda. Justru ada yang tertekan.

Fenomena ini juga menunjukkan kalau ekonomi global sekarang makin saling terhubung. Perubahan kondisi di luar negeri bisa langsung terasa dampaknya sampai ke daerah penghasil sawit di Indonesia. Makanya, harga komoditas seperti sawit sering naik turun mengikuti situasi dunia.

Meski begitu, banyak petani berharap kondisi pasar bisa segera membaik dan harga sawit kembali stabil. Karena bagi sebagian daerah, sawit bukan cuma komoditas ekspor biasa, tapi sumber penghidupan banyak keluarga.(*)

Kategori :