RADARTVNEWS.COM – Pernah nggak sih, baru beberapa jam nongkrong atau ketemu banyak orang, tapi rasanya energi langsung habis total? Bawaannya pengen pulang, rebahan, dan nggak buka chat siapa-siapa dulu. Belakangan, kondisi itu ramai disebut netizen sebagai low social battery.
Istilah ini lagi sering muncul di TikTok, Instagram, sampai X. Banyak orang merasa relate karena ternyata capek bukan cuma datang dari kerjaan atau aktivitas fisik, tapi juga dari terlalu banyak bersosialisasi.
Konten soal low social battery pun bermunculan di media sosial. Mulai dari video orang yang mendadak diam saat nongkrong, sengaja menghindari telepon, sampai meme tentang keinginan pulang lima menit setelah sampai di acara.
Secara sederhana, low social battery menggambarkan kondisi ketika energi sosial seseorang mulai habis setelah terlalu lama berinteraksi. Walau bukan istilah medis resmi, frasa ini sudah telanjur populer dipakai buat menggambarkan rasa lelah secara mental dan emosional setelah bersosialisasi.
Psikolog menyebut, setiap orang memang punya kapasitas sosial yang berbeda-beda. Ada yang justru makin semangat setelah ketemu banyak orang, tapi ada juga yang cepat merasa penuh dan butuh waktu sendiri buat “isi ulang” energi.
BACA JUGA:Overthinking di Usia Muda: Wajar, Tapi Jangan Sampai Menghambat Langkah
Karena itu, rasa capek setelah bersosialisasi sebenarnya bukan hal aneh. Tubuh dan pikiran kadang memang butuh jeda, apalagi di tengah rutinitas yang bikin orang seolah harus terus aktif dan selalu tersedia.
Supaya energi sosial nggak cepat terkuras, ada beberapa hal sederhana yang bisa dilakukan:
• Nggak memaksakan diri datang ke semua ajakan nongkrong.
• Memberi waktu sendiri setelah terlalu lama berada di keramaian.
• Istirahat sejenak dari chat atau media sosial.
• Berani bilang “lagi capek” tanpa merasa nggak enakan.
• Fokus ke lingkungan sosial yang bikin nyaman, bukan melelahkan.
Di tengah ramainya istilah low social battery di media sosial, banyak orang mulai sadar bahwa rasa lelah tidak selalu datang dari pekerjaan atau aktivitas fisik. Kadang, tuntutan untuk terus hadir, membalas pesan, menjaga obrolan, hingga terlihat “aktif” di lingkungan sosial juga bisa menguras energi tanpa disadari.
Fenomena ini sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua orang harus selalu tersedia setiap waktu. Di era ketika interaksi berjalan nyaris tanpa jeda, kemampuan untuk mengenali kapan tubuh dan pikiran butuh istirahat justru menjadi hal yang semakin penting. (*)