“Dulu waktu kampanye, janjinya selangit. Setelah jadi, weleh mas… lali kabeh,” katanya.
Keluhan itu diperjelas oleh Pak Sup, Ketua Aliansi Wajib Pajak Purbolinggo. Ia menyebut infrastruktur jalan—yang menjadi nadi perekonomian dan penghubung antar kecamatan—mengalami kerusakan hingga 85 persen dan sudah berlangsung puluhan tahun.
Antusias Warga dan Anak-anak Menangkap Ikan di -Foto : Udin Bule-
“Mana ada yang peduli,” ujarnya.
Ironisnya, warga mengaku tetap taat membayar pajak. Jalan rusak tetap dilewati, pajak tetap disetori, janji tetap dikenang.
BACA JUGA:JTTS dan Jembatan Musi V Pangkas Waktu Tempuh Kayu Agung–Betung Jadi Satu Jam
Wisata Rasa Sindiran
Grand Opening Wisata Telaga Sewu bukan sekadar acara hiburan. Ini adalah satire hidup. Ketika pembangunan tak kunjung datang, warga menciptakan “destinasi wisata” dari genangan dan lumpur.
Alih-alih menunggu peresmian proyek infrastruktur, warga meresmikan kekecewaan mereka sendiri—lengkap dengan pita pembukaan dan ikan tebaran.
“Semoga Gubernur dari Pemerintah Provinsi Lampung atau pejabat Pemerintah Kabupaten Lampung Timur segera memperbaiki infrastruktur di desa kami. Kami ini selalu bayar pajak,” tutup Suprayitno.
Dan begitulah, di Purbolinggo, warga tak lagi menunggu keajaiban turun dari atas. Mereka membuat panggung sendiri, memancing sendiri, meresmikan sendiri.
Karena jika janji hanya jadi cerita, setidaknya lele dan nila masih bisa dibawa pulang nyata.(*)